Blog

  • Filsafat Wayang, Sunan Kalijaga dan Imam Ghazali

    Filsafat Wayang, Sunan Kalijaga dan Imam Ghazali

    “Wayang mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari terang, tetapi sering muncul dari bayangan. Bayangan adalah wilayah refleksi: sesuatu yang tidak mutlak, tapi memantulkan kenyataan”.

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Wayang bukan sekadar warisan budaya; ia adalah bahasa simbol yang hidup, berdenyut dalam jiwa masyarakat Nusantara. Dalam setiap lakon, setiap bayangan di balik kelir, tersimpan tafsir tentang manusia dan kekuasaan, kebenaran dan kebohongan, kesadaran dan kepura-puraan. Di hadapan layar wayang, manusia diajak untuk bercermin—bukan pada tokoh-tokoh agung di panggungnya, tetapi pada bayangan dirinya sendiri.

    Wayang sudah ada sejak 1500 SM. Berasal dari kata Ma Hyang (Menuju Hyang). Awalnya adalah medium untuk mendatangkan arwah leluhur, sesuai kepercayaan masyarakat Jawa saat itu. Dalam tradisi ini, seorang dalang berprofesi sebagai saman. Bentuk wayang adalah gambaran para leluhur yang sudah meninggal, sehingga wayang juga dimaknai sebagai “bayang-bayang”.

    Setelah terjadi perkembangan dan penyesuaian, ketika bangsa Nusantara kontak dengan agama Hindu, wayang berkembang dengan mengambil cerita dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Perkembangan wayang kemudian berkembang sebagai pertunjukkan panggung teater dan memuncak pada adab XI. Pertunjukkan wayang dipergelarkan dan menjadi daya tarik bagi yang menontonnya. Pokok pergelaran wayang sifatnya masih magis-religius.

    Setelah terjadi kesepakatan antara Sultan Demak dengan Para Wali, maka seni wayang perlu diteruskan dengan perubahan-perubahan yang sesuai dengan zaman. Kesenian wayang dapat dijadikan alat dakwah Islam yang baik. Bentuk wayang yang mirip dengan arca-arca seperti manusia harus dideformasi karena diharamkan menurut Islam. Cerita-cerita dewa harus diubah dan diisi paham yang mengandung jiwa Islam untuk membuang kemusyrikan. Cerita wayang harus diisi dakwah agama yang mengandung keimanan, ibadah, akhlak, kesusilaan, dan sopan santun.

    Wayang lahir dari masyarakat yang menjadikan simbol dan rasa sebagai medium memahami realitas. Ia mengajarkan bahwa dunia ini tak hanya terdiri dari yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi; bahwa setiap gerak lahir harus disertai kesadaran batin. Maka, ketika wayang dipahami sebagai media kritik sosial, sesungguhnya ia berbicara tentang pembongkaran lapisan kepalsuan dalam kehidupan: politik yang kehilangan nurani, kekuasaan tanpa kebijaksanaan, dan manusia yang terperangkap dalam bayangan dirinya sendiri.

    Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum al-Din, menyatakan bahwa sumber kerusakan masyarakat bukan semata pada struktur luar—politik, ekonomi, atau institusi—tetapi pada kerusakan hati manusia.

    Bagi Al-Ghazali, masyarakat yang adil hanya dapat lahir dari individu yang jernih hatinya, karena hati adalah cermin tempat cahaya Tuhan memancar. Dalam konteks wayang, prinsip ini hidup dalam struktur lakon: perang besar antara Pandawa dan Kurawa bukan semata pertarungan fisik, tetapi simbol pertarungan batin—antara nafs ammarah (hawa nafsu yang merusak) dan qalb yang tercerahkan.

    Kritik sosial dalam wayang bukanlah teriakan di luar, melainkan proses penyadaran batin di dalam. Ketika Semar berbicara di sela goro-goro, ia menertawakan penguasa, menyinggung keangkuhan, namun melakukannya dengan kelembutan—sebuah gaya kritik khas Al-Ghazalian: menegur dengan kebijaksanaan, bukan dengan kemarahan. Kritik wayang adalah tazkiyah—penyucian—bukan pemberontakan tanpa arah.

    Wayang di tangan Sunan Kalijaga menjadi media dakwah yang efektif karena memadukan spiritualitas Islam dengan kebijaksanaan Jawa. Ia dikenal bukan semata sebagai dalang dalam arti teknis, melainkan sebagai dalang spiritual—pengarah kesadaran masyarakat melalui simbol-simbol budaya. Kalijaga memahami bahwa dakwah dan kritik sosial harus menyentuh rasa, bukan sekadar logika.

    Dalam wayang, ia menemukan wadah bagi pesan moral yang menyelinap halus ke hati masyarakat melalui simbol, humor, dan perumpamaan. Filsafatnya berakar pada keyakinan bahwa perubahan sosial sejati tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi tumbuh dari kesadaran batin manusia sendiri. Karena itu, dalang dalam pandangan Kalijaga bukan hanya penghibur, tetapi pamomong—guru jiwa yang menuntun masyarakat menuju kebijaksanaan.

    Ketika wayang menampilkan tokoh seperti Sengkuni atau Duryodana, penonton tidak hanya menyaksikan keburukan, tetapi belajar mengenali bayangan gelap dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kritik sosial dalam tradisi wayang adalah proses penyucian kolektif, bukan sekadar perlawanan verbal; ia menyembuhkan, bukan menghancurkan.

    Lebih dalam lagi, filsafat Kalijaga mengajarkan bahwa setiap bentuk kesenian harus memancarkan cahya sejati, yakni sinar kebijaksanaan yang berasal dari kesadaran spiritual. Dalam pewayangan, sinar itu tercermin dari hubungan antara dalang dan penonton—antara yang menggerakkan dan yang digerakkan.

    Dalang bukan hanya pusat kuasa artistik, tetapi lambang dari nur ilahi yang mengatur keseimbangan kosmos. Ketika dalang menggerakkan tokoh-tokoh wayang, ia tidak sedang menciptakan ilusi, melainkan memperlihatkan kenyataan hidup: bahwa manusia pun digerakkan oleh kekuatan yang lebih tinggi, dan bahwa kebebasan sejati adalah tunduk pada harmoni ilahi.

    Dalam filsafat Jawa, kehidupan yang ideal adalah tata titi tentreming bumi—tatanan yang seimbang, tenteram, dan harmonis. Segala bentuk ketidakseimbangan, baik sosial maupun batin, dipandang sebagai tanda hilangnya rasa sejati.

    Maka kritik sosial dalam wayang sejatinya adalah usaha mengembalikan harmoni yang terganggu. Konsep Manunggaling Kawula-Gusti (kesatuan antara manusia dan Yang Ilahi) bukanlah mistik pasif, melainkan kesadaran etis: manusia hanya akan selaras dengan Tuhan jika ia menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Ketika tatanan sosial rusak, itu berarti manusia telah kehilangan rasa batin—kesadaran spiritual yang menjadi sumber keadilan.

    Dalam lakon-lakon besar seperti Bharatayudha atau Rama Tambak, pertarungan antara dharma dan adharma (kebenaran dan kebatilan) menjadi simbol dari perjuangan masyarakat menjaga keseimbangan nilai. Wayang menjadi ruang tempat rakyat Jawa belajar berpikir kritis melalui rasa, bukan melalui dogma.

    Dalam tradisi pewayangan, tokoh Semar menjadi penjaga moral sekaligus pengingat kosmis. Ia bukan hanya pelawak atau penghibur, melainkan simbol nurani rakyat yang selalu berani menegur penguasa dengan bahasa sederhana. Dalam tubuh Semar terkandung paradoks: rupa yang buruk namun hati yang suci, tubuh yang renta namun jiwa yang abadi.

    Semar adalah representasi ideal dari kritik sosial yang berakar pada welas asih—teguran yang lahir dari cinta, bukan dari kebencian. Dalam konteks modern, figur Semar adalah suara moral masyarakat yang mencoba menertawakan absurditas kekuasaan, sambil tetap memelihara empati terhadap sesama.

    Wayang mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari terang, tetapi sering muncul dari bayangan. Bayangan adalah wilayah refleksi: sesuatu yang tidak mutlak, tapi memantulkan kenyataan. Dalam dunia modern yang penuh hiruk-pikuk, wayang memberi pelajaran penting: kritik tidak selalu harus keras untuk menjadi tajam.

    Dalam dunia maya yang dipenuhi komentar dan kemarahan, tradisi wayang menawarkan cara lain: menertawakan kekuasaan dengan kebijaksanaan, menyindir tanpa menghina, menegur tanpa merendahkan. Dalang mengatur dunia kecil di balik layar bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menuntun penonton memahami dirinya sendiri. Kritik sosial yang lahir dari kesadaran spiritual semacam ini lebih dalam daripada sekadar protes politik; ia membangkitkan rasa tanggung jawab moral sebagai manusia dan warga.

    Kini, wayang menghadapi zaman baru: dunia digital di mana “bayangan” berpindah ke layar kaca dan layar ponsel. Namun, esensi wayang tetap sama—ia berbicara tentang manusia, tentang ketimpangan dan keserakahan, tentang pencarian makna dalam dunia yang kehilangan arah. Filsafat Al-Ghazali dan kebijaksanaan Kalijaga tetap relevan di sini. Kritik sosial bukan soal siapa yang paling lantang bersuara, melainkan siapa yang paling jernih menyuarakan nurani. Wayang digital, animasi, dan teater modern bisa menjadi panggung baru kesadaran, asalkan tidak kehilangan ruhnya: kesederhanaan, kejujuran, dan keseimbangan antara hiburan dan pencerahan.

    Lebih dari itu, wayang juga menantang manusia modern untuk memikirkan kembali makna “bayangan” dalam dunia yang penuh pencitraan. Bila dahulu bayangan di kelir menjadi sarana kontemplasi, kini bayangan di layar digital sering menjadi tirai yang menutupi kebenaran. Wayang mengajarkan bahwa bayangan seharusnya memperlihatkan, bukan menutupi; menyingkap, bukan menipu. Maka tugas manusia masa kini adalah menemukan kembali kejujuran batin dalam dunia yang telah menjadikan “penampakan” lebih penting daripada hakikat.

    Wayang mengajarkan bahwa setiap bayangan adalah peringatan bagi manusia agar tidak terperangkap dalam gelapnya kuasa diri. Filsafat Al-Ghazali mengingatkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati yang bersih, sedangkan Kalijaga menunjukkan bahwa keindahan dan sindiran bisa menjadi jalan dakwah dan pembebasan.

    Keduanya bertemu dalam satu pandangan: kritik sosial sejati adalah cermin spiritual. Ia tidak menghancurkan, melainkan membimbing. Ia tidak melawan manusia, tetapi melawan kebodohan, keserakahan, dan kemunafikan dalam diri manusia itu sendiri. Di zaman yang bising oleh kata-kata, wayang menegur kita dengan keheningan yang bermakna. Ia mengingatkan bahwa tugas manusia bukan sekadar mengubah dunia, tetapi terlebih dahulu menjernihkan dirinya—karena dari kejernihan itulah keadilan sosial dapat tumbuh.

    Wayang akhirnya menjadi ruang bagi manusia untuk berlatih menjadi bijaksana: belajar menertawakan kesombongan diri, memahami ironi kehidupan, dan menerima paradoks antara terang dan gelap. Dalam cahaya yang temaram di balik kelir, manusia menemukan dirinya sendiri—sebagai bayangan yang fana, namun sekaligus sebagai makhluk yang memiliki kesempatan abadi untuk memahami makna kehidupan.

  • Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    “Inilah sebuah amalan bacaan yang langsung diturunkan Allah Ta’ala karena 24.000 Nabi, termasuk Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril tidak mengetahuinya.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku, kekasih Allah. Pasulukan Loka Gandasasmita mengucapkan Dirgahayu ke 81 Tentara Nasional Indonesia, semoga tentara semakin menjadi pelindung rakyat, bangsa dan negara. Hubungan antara TNI dan rakyat diibaratkan seperti ikan dan air; tentara tidak akan bisa hidup dan bertahan tanpa dukungan rakyat.

    Seiring dengan perkembangan keadaan global baik dari sisi keamanan, perpolitikan, ekonomi, dan lebih dikhawatirkan adalah tergerusnya iman dari hati umat beragama karena telah susutnya ulama menjelang akhir zaman. Maka risalah ini sangat erat hubungan dengan keadaan itu.

    Dimulai dari Nabi Khidir AS bertanya kepada 24.000 Nabi tentang amalan bacaan yang melindungi pembacanya dari dicabut imannya. Namun demikian semuanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Hingga bertanyalah kepada Nabi Muhammad SAW namun Nabi pun tidak bisa menjawabnya dan beliau akan bertanya kepada Jibril A.S. Ternyata Malaikat Jibril pun tidak bisa menjawabnya hingga dia bertanya langsung pada Allah SWT. Dan inilah jawabanNya, sebagaimana yang diterangkan oleh Mursyid kami Abah Guru Sekumpul dalam sebuah Kanal Youtube:

    Ternyata inilah jawaban Allah Ta’ala terhadap pertanyaan tersebut:

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255).
    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286.
    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18.
    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27.
    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4.
    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5.
    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6.
    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7.

    Berikut rincian ayat-ayat tersebut agar bisa diamalkan sebagai amalan bacaan setiap hari.

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255):

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ە ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

    Allâhu lâ ilâha illâ huw, al-ḫayyul-qayyûm, lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ na’ûm, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi’idznih, ya‘lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum, wa lâ yuḫîthûna bisyai’im min ‘ilmihî illâ bimâ syâ’, wasi‘a kursiyyuhus-samâwâti wal-ardl, wa lâ ya’ûduhû ḫifdhuhumâ, wa huwal-‘aliyyul-‘adhîm

    “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286:

    اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ۝٢٨٥ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ۝٢٨٦

    Ãmanar-rasûlu bimâ unzila ilaihi mir rabbihî wal-mu’minûn, kullun âmana billâhi wa malâ’ikatihî wa kutubihî wa rusulih, lâ nufarriqu baina aḫadim mir rusulih, wa qâlû sami‘nâ wa atha‘nâ ghufrânaka rabbanâ wa ilaikal-mashîr. Lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus‘ahâ, lahâ mâ kasabat wa ‘alaihâ maktasabat, rabbanâ lâ tu’âkhidznâ in nasînâ au akhtha’nâ, rabbanâ wa lâ taḫmil ‘alainâ ishrang kamâ ḫamaltahû ‘alalladzîna ming qablinâ, rabbanâ wa lâ tuḫammilnâ mâ lâ thâqata lanâ bih, wa‘fu ‘annâ, waghfir lanâ, war-ḫamnâ, anta maulânâ fanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn

    “Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali. Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18:

    شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝١٨

    Syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm

    “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27:

    قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝٢٦ تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٢٧

    Qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi‘ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu‘izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr. Tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4:

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ۝١ اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ۝٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ۝٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ ۝٤

    Qul huwallâhu aḫad. Allâhush-shamad. Lam yalid wa lam yûlad. Wa lam yakul lahû kufuwan aḫad

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۙ ۝١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ ۝٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ ۝٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ ۙ ۝٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

    Qul a‘ûdzu birabbil-falaq. Min syarri mâ khalaq. Wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab. Wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad. Wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh). Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ ۝١ مَلِكِ النَّاسِ ۙ ۝٢ اِلٰهِ النَّاسِ ۙ ۝٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ە ۙ الْخَنَّاسِ ۖ ۝٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ ۙ ۝٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦

    Qul a‘ûdzu birabbin-nâs. Malikin-nâs. Ilâhin-nâs. Min syarril-waswâsil-khannâs. Alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs. Minal-jinnati wan-nâs

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ۝٧

    Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm. Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn. Ar-raḫmânir-raḫîm. Mâliki yaumid-dîn. Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în. Ihdinash-shirâthal-mustaqîm. Shirâthalladzîna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    Maka barangsiapa yang membaca seluruh rangkaian amalan bacaan tadi setiap selesai shalat, Allah Ta’ala menjamin sang pembacanya dari tercabut iman pada qalbunya hingga akhir hayatnya.

    Akhir Risalah:

    رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb

    “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 8)

  • Mukjizat Nabi Sulaiman Ditiru AI

    Mukjizat Nabi Sulaiman Ditiru AI

    “Para ilmuwan kini sedang mengembangkan cara untuk memahami bahasa hewan. Caranya dengan menggunakan artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Saudaraku yang dirahmati Allah SWT. Memahami bahasa hewan sebenarnya bukan hal baru didengar dalam dunia Islam. Sebab ada sosok yang punya kemampuan melakukannya, yaitu Nabi Sulaiman AS. Kemampuan berbicara dengan hewan itu merupakan salah satu mukjizat yang dimilikinya.

    Berkat kemampuan yang dianugerahkan Allah SWT tersebut, membuat para hewan patuh pada perintah Nabi Sulaiman AS. Bukan cuma hewan, bahkan angin, jin dan setan pun dikuasainya dan tunduk pada perintahnya.

    Berikut petunjuk al-Qur’an tentang beberapa mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Sulaiman AS:

    Memahami Bahasa Burung

    وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ ۝١٦

    Wa waritsa sulaimânu dâwûda wa qâla yâ ayyuhan-nâsu ‘ullimnâ manthiqath-thairi wa ûtînâ ming kulli syaî’, inna hâdzâ lahuwal-fadllul-mubîn

    “Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (Q.S. An-Naml [27]: 16)

    Memahami Bahasa Semut

    حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ۝١٨ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٩

    Hattâ idzâ atau ‘alâ wâdin-namli qâlat namlatuy yâ ayyuhan-namludkhulû masâkinakum, lâ yahthimannakum sulaimânu wa junûduhû wa hum lâ yasy‘urûn. Fa tabassama dlâḫikam ming qaulihâ wa qâla rabbi auzi‘nî an asykura ni‘matakallatî an‘amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a‘mala shâliḫan tardlâhu wa adkhilnî biraḫmatika fî ‘ibâdikash-shâliḫîn

    “Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (18) Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (19)” (Q.S. An-Naml [27]: 18–19)

    Mengendalikan Angin

    وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ ۝٨١

    Wa lisulaimânar-rîḫa ‘âshifatan tajrî bi’amrihî ilal-ardlillatî bâraknâ fîhâ, wa kunnâ bikulli syai’in ‘âlimîn

    “(Kami menundukkan) pula untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 81)

    وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ۝١٢

    Wa lisulaimânar-rîḫa ghuduwwuhâ syahruw wa rawâḫuhâ syahr, wa asalnâ lahû ‘ainal-qithr, wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr

    “Bagi Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang (jarak tempuh) perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) serta Kami alirkan cairan tembaga baginya. Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)

    فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ ۝٣٦

    Fa sakhkharnâ lahur-rîḫa tajrî bi’amrihî rukhâ’an ḫaitsu ashâb

    “Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki.” (Q.S. Shad [38]: 36)

    Raja Kerajaan Besar

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ ۝١٧

    Wa ḫusyira lisulaimâna junûduhû minal-jinni wal-insi wath-thairi fa hum yûza‘ûn

    “Untuk Sulaiman dikumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib.” (Q.S. An-Naml [27]: 17)

    قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ۝٣٥

    Qâla rabbighfir lî wa hab lî mulkal lâ yambaghî li’aḫadim mim ba‘dî, innaka antal-wahhâb

    “Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.’” (Q.S. Shad [38]: 35)

    Menguasai Jin dan Setan

    … وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ۝١٢

    … Wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr

    “… Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)

    وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ ۝٣٧ وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ ۝٣٨ هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٣٩

    Wasy-syayâthîna kulla bannâ’iw wa ghawwâsh. Wa âkharîna muqarranîna fil-ashfâd. Hâdzâ ‘athâ’unâ famnun au amsik bighairi ḫisâb.

    “(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam. (37) (Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu. (38) Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan. (39)” (Q.S. Shad [38]: 37-38)

    Di era modern, manusia berusaha mengulik teknologi yang mereka punya untuk bisa memiliki kemampuan seperti dimiliki Nabi Sulaiman AS. Meski masih dalam tahap pengembangan, tapi ambisi itu tidak diiringi dengan kesadaran etis akan manfaat dan tujuan memperolehnya. Tentu saja, kemampuan itu tidak bisa dibandingkan dengan mukjizat Nabi Sulaiman AS.

    Menurut para ilmuwan AI, memahani bahasa hewan ini dimungkinkan berkat perkembangan di bidang bioakustik digital. Bioakustik adalah ilmu lintas-disiplin yang menggabungkan biologi dan akustik yang biasanya merujuk pada penelitian mengenai produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan pada hewan, termasuk manusia.

    “Teknologi baru membantu peneliti memecahkan kode komunikasi hewan. Dan bahkan mulai berbicara dengan mereka. Sensor canggih dan AI mungkin membuat kita berada di ambang komunikasi antarspesies,” kata Kelso Harper, produser video dan jurnalis sains yang punya gelar di bidang penulisan kimia dan sains dari Universitas Johns Hopkins dan Massachusetts Institute of Technology, dikutip dari Scientific American, Sabtu (1/4/2023).

    Karen Bakker, seorang profesor di University of British Columbia dan Harvard Radcliffe Institute for Advanced Study menulis buku berjudul ‘The Sounds of Life: How Digital Technology is Bringing us Closer to the Worlds of Animals and Plants.’ Dalam bukunya itu, ia mengeksplorasi bagaimana para peneliti memanfaatkan teknologi baru untuk memahami komunikasi hewan bahkan di bidang bioakustik digital yang sedang berkembang.

    Jadi, apakah para ilmuwan mencoba membuat hewan berbicara seperti manusia seperti di film kartun? Bakker menyebutkan, apa yang digambarkan para peneliti kurang lebih hampir mirip seperti itu.

    Upaya ini rupanya sudah dilakukan para peneliti. Mereka pertama kali mulai mencoba berkomunikasi dengan hewan pada sekitar tahun 1970-1980an. Artinya, mereka berusaha untuk mengajari hewan bahasa manusia. Namun, banyak ilmuwan saat ini telah beralih dari pendekatan yang berpusat pada manusia, dan sebaliknya mereka ingin memahami komunikasi hewan dengan caranya sendiri.

    “Jadi, alih-alih mencoba mengajari burung berbicara bahasa manusia, ilmuwan menguraikan apa yang sudah mereka katakan dalam bahasa burung,” kata Harper.

    Bidang bioakustik digital baru ini menggunakan perekam lapangan portabel seperti mikrofon mini yang dapat diletakkan hampir di mana saja, di pohon, di puncak gunung, bahkan di punggung ikan paus dan burung.

    Mereka merekam suara setiap hari dan membuat banyak sekali data, di situlah kecerdasan buatan masuk. Peneliti dapat menerapkan algoritma pemrosesan bahasa alami seperti yang digunakan oleh Google menerjemahkan untuk mendeteksi pola dalam rekaman ini dan mulai memecahkan kode apa yang mungkin dikatakan hewan kepada satu sama lain.

    Salah satu contoh yang diberikan Karen dalam bukunya adalah tentang kelelawar buah Mesir. Seorang peneliti bernama Yossi Yovel merekam audio dan video dari dua puluhan kelelawar selama dua setengah bulan. Timnya mengadaptasi program pengenalan suara untuk menganalisis 15 ribu suara, lalu algoritms menghubungkan suara tertentu dengan interaksi sosial tertentu dalam video, seperti berebut makanan atau berebut posisi tidur.

    Jadi, penelitian ini, dikombinasikan dengan beberapa penelitian terkait lainnya, mengungkapkan bahwa kelelawar mampu melakukan komunikasi yang rumit.

    “Dengan kecerdasan buatan, kita bisa mulai melacak pola komunikasi hewan yang sebelumnya tidak pernah bisa kita lakukan,” kata Harper.

    Orang-orang masih memperdebatkan pertanyaan apakah kita dapat menyebutnya bahasa hewan atau tidak. Namun semakin jelas bahwa hewan memiliki cara komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang kita pikirkan sebelumnya.

    Dalam bukunya, Karen memberikan analogi penemuan bioakustik digital dengan penemuan mikroskop, karena keduanya memiliki kemiripan.

    “Mikroskop membuka seluruh dunia baru bagi kita dan meletakkan dasar bagi terobosan ilmiah yang tak terhitung jumlahnya secara visual. Dan itulah yang dilakukan bioakustik digital dengan audio untuk mempelajari komunikasi hewan,” tulis Karen.

    Sangat menarik untuk melihat ke mana arah penelitian di bidang bioakustik digital dan bagaimana hal itu dapat mengubah cara kita berpikir tentang komunikasi dengan lawan bicara non-manusia. Nabi Sulaiman AS dianugerahkan oleh Allah SWT mukjizat untuk menguasai hewan, angin, jin, dll dengan membawa misi nubuwwah dan amanah-Nya. Lalu untuk manusia saat ini, apakah sama dengan misi Nabi Sulaiman AS?

    Sebagai penutup artikel, Rasulullah SAW pernah bersabda. Dari Abu Hurairah RA berkata; Rasulullah SAW pernah berdoa:

    اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ، مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَآءٍ لَا يُسْمَعُ .

    Allâhumma innî a’ûdzu bika minal arba’i, min ‘ilmil lâ yanfa’, wa min qalbil lâ yakhsya’, wa min nafsil lâ tasyba’, wa min du’âil la yusma’.

    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari empat perkara, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak didengar”. (H.R. Abu Dawud dalam Shahih-nya No. 1548)

Share with