“Para ilmuwan kini sedang mengembangkan cara untuk memahami bahasa hewan. Caranya dengan menggunakan artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞
Bismillâhirrahmânirrahîm
Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
Saudaraku yang dirahmati Allah SWT. Memahami bahasa hewan sebenarnya bukan hal baru didengar dalam dunia Islam. Sebab ada sosok yang punya kemampuan melakukannya, yaitu Nabi Sulaiman AS. Kemampuan berbicara dengan hewan itu merupakan salah satu mukjizat yang dimilikinya.
Berkat kemampuan yang dianugerahkan Allah SWT tersebut, membuat para hewan patuh pada perintah Nabi Sulaiman AS. Bukan cuma hewan, bahkan angin, jin dan setan pun dikuasainya dan tunduk pada perintahnya.
Berikut petunjuk al-Qur’an tentang beberapa mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Sulaiman AS:
Memahami Bahasa Burung
وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ ١٦
Wa waritsa sulaimânu dâwûda wa qâla yâ ayyuhan-nâsu ‘ullimnâ manthiqath-thairi wa ûtînâ ming kulli syaî’, inna hâdzâ lahuwal-fadllul-mubîn
“Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (Q.S. An-Naml [27]: 16)
Memahami Bahasa Semut
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٨ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ ١٩
Hattâ idzâ atau ‘alâ wâdin-namli qâlat namlatuy yâ ayyuhan-namludkhulû masâkinakum, lâ yahthimannakum sulaimânu wa junûduhû wa hum lâ yasy‘urûn. Fa tabassama dlâḫikam ming qaulihâ wa qâla rabbi auzi‘nî an asykura ni‘matakallatî an‘amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a‘mala shâliḫan tardlâhu wa adkhilnî biraḫmatika fî ‘ibâdikash-shâliḫîn
“Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (18) Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (19)” (Q.S. An-Naml [27]: 18–19)
Mengendalikan Angin
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ ٨١
Wa lisulaimânar-rîḫa ‘âshifatan tajrî bi’amrihî ilal-ardlillatî bâraknâ fîhâ, wa kunnâ bikulli syai’in ‘âlimîn
“(Kami menundukkan) pula untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 81)
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ١٢
Wa lisulaimânar-rîḫa ghuduwwuhâ syahruw wa rawâḫuhâ syahr, wa asalnâ lahû ‘ainal-qithr, wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr
“Bagi Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang (jarak tempuh) perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) serta Kami alirkan cairan tembaga baginya. Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ ٣٦
Fa sakhkharnâ lahur-rîḫa tajrî bi’amrihî rukhâ’an ḫaitsu ashâb
“Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki.” (Q.S. Shad [38]: 36)
Raja Kerajaan Besar
وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ ١٧
Wa ḫusyira lisulaimâna junûduhû minal-jinni wal-insi wath-thairi fa hum yûza‘ûn
“Untuk Sulaiman dikumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib.” (Q.S. An-Naml [27]: 17)
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٣٥
Qâla rabbighfir lî wa hab lî mulkal lâ yambaghî li’aḫadim mim ba‘dî, innaka antal-wahhâb
“Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.’” (Q.S. Shad [38]: 35)
Menguasai Jin dan Setan
… وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ١٢
… Wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr
“… Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)
وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ ٣٧ وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ ٣٨ هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ٣٩
Wasy-syayâthîna kulla bannâ’iw wa ghawwâsh. Wa âkharîna muqarranîna fil-ashfâd. Hâdzâ ‘athâ’unâ famnun au amsik bighairi ḫisâb.
“(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam. (37) (Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu. (38) Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan. (39)” (Q.S. Shad [38]: 37-38)
Di era modern, manusia berusaha mengulik teknologi yang mereka punya untuk bisa memiliki kemampuan seperti dimiliki Nabi Sulaiman AS. Meski masih dalam tahap pengembangan, tapi ambisi itu tidak diiringi dengan kesadaran etis akan manfaat dan tujuan memperolehnya. Tentu saja, kemampuan itu tidak bisa dibandingkan dengan mukjizat Nabi Sulaiman AS.
Menurut para ilmuwan AI, memahani bahasa hewan ini dimungkinkan berkat perkembangan di bidang bioakustik digital. Bioakustik adalah ilmu lintas-disiplin yang menggabungkan biologi dan akustik yang biasanya merujuk pada penelitian mengenai produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan pada hewan, termasuk manusia.
“Teknologi baru membantu peneliti memecahkan kode komunikasi hewan. Dan bahkan mulai berbicara dengan mereka. Sensor canggih dan AI mungkin membuat kita berada di ambang komunikasi antarspesies,” kata Kelso Harper, produser video dan jurnalis sains yang punya gelar di bidang penulisan kimia dan sains dari Universitas Johns Hopkins dan Massachusetts Institute of Technology, dikutip dari Scientific American, Sabtu (1/4/2023).
Karen Bakker, seorang profesor di University of British Columbia dan Harvard Radcliffe Institute for Advanced Study menulis buku berjudul ‘The Sounds of Life: How Digital Technology is Bringing us Closer to the Worlds of Animals and Plants.’ Dalam bukunya itu, ia mengeksplorasi bagaimana para peneliti memanfaatkan teknologi baru untuk memahami komunikasi hewan bahkan di bidang bioakustik digital yang sedang berkembang.
Jadi, apakah para ilmuwan mencoba membuat hewan berbicara seperti manusia seperti di film kartun? Bakker menyebutkan, apa yang digambarkan para peneliti kurang lebih hampir mirip seperti itu.
Upaya ini rupanya sudah dilakukan para peneliti. Mereka pertama kali mulai mencoba berkomunikasi dengan hewan pada sekitar tahun 1970-1980an. Artinya, mereka berusaha untuk mengajari hewan bahasa manusia. Namun, banyak ilmuwan saat ini telah beralih dari pendekatan yang berpusat pada manusia, dan sebaliknya mereka ingin memahami komunikasi hewan dengan caranya sendiri.
“Jadi, alih-alih mencoba mengajari burung berbicara bahasa manusia, ilmuwan menguraikan apa yang sudah mereka katakan dalam bahasa burung,” kata Harper.
Bidang bioakustik digital baru ini menggunakan perekam lapangan portabel seperti mikrofon mini yang dapat diletakkan hampir di mana saja, di pohon, di puncak gunung, bahkan di punggung ikan paus dan burung.
Mereka merekam suara setiap hari dan membuat banyak sekali data, di situlah kecerdasan buatan masuk. Peneliti dapat menerapkan algoritma pemrosesan bahasa alami seperti yang digunakan oleh Google menerjemahkan untuk mendeteksi pola dalam rekaman ini dan mulai memecahkan kode apa yang mungkin dikatakan hewan kepada satu sama lain.
Salah satu contoh yang diberikan Karen dalam bukunya adalah tentang kelelawar buah Mesir. Seorang peneliti bernama Yossi Yovel merekam audio dan video dari dua puluhan kelelawar selama dua setengah bulan. Timnya mengadaptasi program pengenalan suara untuk menganalisis 15 ribu suara, lalu algoritms menghubungkan suara tertentu dengan interaksi sosial tertentu dalam video, seperti berebut makanan atau berebut posisi tidur.
Jadi, penelitian ini, dikombinasikan dengan beberapa penelitian terkait lainnya, mengungkapkan bahwa kelelawar mampu melakukan komunikasi yang rumit.
“Dengan kecerdasan buatan, kita bisa mulai melacak pola komunikasi hewan yang sebelumnya tidak pernah bisa kita lakukan,” kata Harper.
Orang-orang masih memperdebatkan pertanyaan apakah kita dapat menyebutnya bahasa hewan atau tidak. Namun semakin jelas bahwa hewan memiliki cara komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang kita pikirkan sebelumnya.
Dalam bukunya, Karen memberikan analogi penemuan bioakustik digital dengan penemuan mikroskop, karena keduanya memiliki kemiripan.
“Mikroskop membuka seluruh dunia baru bagi kita dan meletakkan dasar bagi terobosan ilmiah yang tak terhitung jumlahnya secara visual. Dan itulah yang dilakukan bioakustik digital dengan audio untuk mempelajari komunikasi hewan,” tulis Karen.
Sangat menarik untuk melihat ke mana arah penelitian di bidang bioakustik digital dan bagaimana hal itu dapat mengubah cara kita berpikir tentang komunikasi dengan lawan bicara non-manusia. Nabi Sulaiman AS dianugerahkan oleh Allah SWT mukjizat untuk menguasai hewan, angin, jin, dll dengan membawa misi nubuwwah dan amanah-Nya. Lalu untuk manusia saat ini, apakah sama dengan misi Nabi Sulaiman AS?
Sebagai penutup artikel, Rasulullah SAW pernah bersabda. Dari Abu Hurairah RA berkata; Rasulullah SAW pernah berdoa:
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ، مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَآءٍ لَا يُسْمَعُ .
Allâhumma innî a’ûdzu bika minal arba’i, min ‘ilmil lâ yanfa’, wa min qalbil lâ yakhsya’, wa min nafsil lâ tasyba’, wa min du’âil la yusma’.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari empat perkara, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak didengar”. (H.R. Abu Dawud dalam Shahih-nya No. 1548)