Category: Tasawuf

  • Shalawat Tarhim Syaikh Al-Hussary

    Shalawat Tarhim Syaikh Al-Hussary

    “Bershalawat kepada Nabi SAW adalah sebuah amaliyah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT bagi orang-orang beriman.”

    Oleh: Admin

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku, para salik yang dicintai Allah SWT. Sya’ir shalawat yang ditulis oleh para pendahulu Islam, baik sejak masa para sahabat, maupun para ulama kontemporer, begitu banyak menghiasi khazanah keislaman. Sya’ir itu merupakan bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW.

    Sya’ir itu kemudian dilantunkan, diberi irama/nada, dan dinyanyikan oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun para orang tua. Apalagi di kalangan masyarakat Indonesia, lantunan sya’ir shalawat dibawakan dengan berbagai langgam irama baik diiringi alat musik maupun tanpa alat musik. Suara lantunan shalawat menghiasi masjid-masjid dan mushalla-mushalla di pelosok-pelosok negeri. Setiap hari dan dengan beraneka macam gaya.

    Sejatinya, bershalawat kepada Nabi SAW adalah sebuah amaliyah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT bagi orang-orang beriman. Sebagaimana Allah tegaskan dengan gamblang bahwa Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Lalu Allah juga turunkan perintah secara gamblang bagi orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi SAW.

    Perhatikan Surat al-Ahzab [33] ayat 56 berikut ini:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

    Innallâha wa malâ’ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

    Selain itu, ada satu shalawat yang rekaman suaranya sering dikumandangkan di masjid-masjid di Indonesia menjelang adzan (terutama waktu Subuh). Shalawat itu adalah Shalawat Tarhim. Mungkin sejak kecil hingga saat ini anda tidak asing lagi dengan suara sebagaimana ditayangkan dalam Kanal Youtube di bawah ini:

    Dengan suara dan langgam yang khas menghiasi jagad Nusantara ini, shalawat ini begitu terkenal. Namun, segitu masyhurnya shalawat ini, tak banyak orang tahu apa maknanya, siapa penyusunnya dan siapa yang mengumandangkannya.

    Makna Shalawat Tarhim

    Simak teks bacaan lengkap shalawat Tahrim berikut ini:

    اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَآ إِمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَا رَسُوْلَ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا نَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا نَاصِرَ الْحَقِّ، يَارَسُوْلَ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا مَنْ اَسْرَى بِكَ الْمُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالْأَنَامُ نِيَامْ، وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَآءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ، وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا، وَسَمِعْتَ نِدَآءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِيْمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَا رَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَعَلَى آلِكَ وَأَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ ۞

    Ash-shalâtu was-salâmu ‘alaiyk. Yâ imâmal mujâhidîn. Yâ rasûlallâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ nâshiral hudâ. Yâ khayra khalqillâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ nâshiral haqqi, yâ rasûlallâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ man asrâ bikal muhayminu laylan nilta. Mâ nilta wal-anâmu niyâm, wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kullu man fis-samâ-i wa antal imâm, wa ilal muntahâ rufi’ta karîman, wa sami’ta nidâ-an ‘alaykas salâm. Yâ karîmal akhlâq. Yâ rasûlallâh. shallallâhu ‘alayk. Wa ‘alâ âlika wa ash-hâbika ajma’în.

    “Shalawat dan salam semoga dilimpahkan padamu, wahai pemimpin para pejuang. Wahai Utusan Allah, shalawat serta salam semoga diberikan kepadamu, wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahai makhluk yang paling baik. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, wahai penolong kebenaran. Wahai Utusan Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai engkau yang diperjalankan bersamamu al-Muhaimin (Yang Maha Melindungi) pada malam hari, engkau memperoleh (sesuatu) saat seluruh manusia tertidur, engkau pun maju untuk mendirikan shalat maka shalatlah seluruh penghuni langit sementara engkau menjadi imam, engkau dinaikkan dengan penuh kemuliaan menuju Sidratul Muntaha, lalu engkau mendengar seruan berupa salam atasmu, wahai yang sangat mulia akhlaknya, wahai Utusan Allah, semoga shalawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu semua.”

    Kandungan Shalawat Tarhim terdiri dari untaian doa, pujian dan pengakuan terhadap Rasulullah SAW yang dilantunkan untuk mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT. Selain itu, dalam sya’ir shalawat tersebut terdapat juga sejarah peristiwa Mi’raj-nya Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha.

    Untuk memahami lebih mendalam, sya’ir yang dirangkai oleh Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussary ini menyimpan tiga makna utama di balik setiap baitnya:

    1. Pengakuan atas Keagungan dan Gelar Mulia Rasulullah SAW

    Pada bait-bait awal, lirik tarhim memberikan penghormatan tinggi kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyebutkan gelar-gelar teologis beliau:

    Pertama, Pemimpin para pejuang (Imâmal Mujâhidîn). Menegaskan peran Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat yang tangguh dalam menegakkan keadilan. Imâmal Mujâhidîn menunjukkan makna bahwa beliau adalah pemimpin para pejuang dalam berbagai sektor; pejuang di medan perang, pejuang melawan hawa nafsu, pejuang dalam kesabaran hidup, pejuang dalam kesabaran meraih ridha Allah, pejuang dalam keistiqamahan iman, ketaqwaan, akhlaq, pejuang dalam kesabaran menerima penolakan-penolakan dakwah, dst.

    Jika anda bertekad untuk meraih kemuliaan dunia dan akhirat, maka beliaulah panutan dan rujukan untuk meraihnya. Jika anda bertekad membina rumah tangga dan membangun hubungan bersama pasangan, maka beliaulah protoype atau gambaran untuk mengambil uswah hasanah. Jika anda berprofesi sebagai pengusaha, beliaulah contoh yang ideal untuk mendudukkan profesi pengusaha dalam kaitannya kepada Tuhan. Jika anda seorang prajurit atau panglima perang, maka ambillah contoh-contoh dari beliau SAW.

    Kedua, Penuntun petunjuk Ilahi (Nâshiral Hudâ). Mengingatkan bahwa melalui beliaulah umat manusia dituntun keluar dari zaman kegelapan menuju cahaya iman. Beliau SAW adalah seorang yang teramat sangat ingin agar manusia ini bisa keluar dari kegelapan akibat terjerat oleh hawa nafsu. Beliau SAW adalah seorang yang tidak ridha jika ada manusia dari kalangan umatnya masuk Neraka.

    Nâshiral Hudâ bukanlah semata gelar panggilan, tapi itu adalah tugas dan amanah nubuwwah (kenabian) yang diamanahkan oleh Allah SWT. Menggiring dan memberikan jalan bagi manusia untuk menemukan jalan cahaya menuju Allah SWT. Hal itu seolah menjadi estafet bagi para pewaris beliau SAW, yakni para ulama yang dalam keulamaannya berpegang teguh pada Nubuwwah al-Muhammadiyyah.

    Ketiga, Makhluk terbaik (Khayra khalqillâh). Gelar sebaik-baik makhluq bukanlah semata gelar yang hanya terbatas pada penyebutan umatnya untuk beliau SAW. Akan tetapi, Allah SWT telah menyatakan itu dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, diantaranya:

    نۤۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ۝١ مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ۝٢ وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ۝٣ وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ۝٤

    Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn. Mâ anta bini‘mati rabbika bimajnûn. Wa inna laka la’ajran ghaira mamnûn. Wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adzhîm.

    “Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Berkat karunia Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila. Sesungguhnya bagi engkaulah pahala yang tidak putus-putus. Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 1-4)

    Keempat, Pembela kebenaran sejati (Nâshiral haqqi). Pengakuan bahwa beliau adalah seorang pembela kebenaran sejati. Bahkan di beberapa ayat al-Qur’an disebutkan secara eksplisit bahwa beliau adalah “cahaya kebenaran” atau “lampu” yang memberikan cahaya penerang bagi umat manusia (Sirâjan Munîran).

    Allah SWT berfirman:

    وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا ۝٤٦

    Wa dâ‘iyan ilallâhi bi’idznihî wa sirâjam munîrâ

    “dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta sebagai pelita yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzâb [33]: 46)

    Juga dalam Firman-Nya:

    … قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ۝١٥

    … Qad jâ’akum minallâhi nûruw wa kitâbum mubîn

    “… Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci yang jelas.” (Q.S. Al-Mâidah [5]: 15)

    2. Mengenang Peristiwa Mukjizat Isra Mi’raj

    Bait tengah shalawat ini secara khusus menggambarkan kemuliaan spiritual Nabi Muhammad SAW saat diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha (Isrâ wal-Mi’râj).

    Liriknya mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dan naik ke langit ketika manusia lain sedang terlelap tidur. Di sana, beliau mengimami seluruh penghuni langit (para Malaikat dan Nabi-Nabi terdahulu) untuk melaksanakan shalat. Ini menggambarkan legitimasi spiritual beliau sebagai pemimpin alam semesta.

    Susunan shalawat yang dikaitkan dengan peristiwa sejarah yang bersifat spiritual ini jarang sekali ditemukan dalam sya’ir shalawat yang lain. Dalam Kitab Al-Anwâr al-Bahiyyah min Isrâ’ wa Mi’râj Khairil Bariyyah karya Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani disebutkan tentang momen sakral ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi para nabi, rasul, dan para malaikat penghuni langit di Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) sebelum beliau naik ke langit (Mi’raj):

    وَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَقَامَ يُصَلِّي، ثُمَّ الْتَفَتَ فَإِذَا النَّبِيُّونَ أَجْمَعُونَ يُصَلُّونَ مَعَهُ. وَفِي رِوَايَةِ كَعْبٍ: أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَذَّنَ، وَهَبَطَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنَ السَّمَاءِ، وَجَمَعَ اللهُ الْمُرْسَلِينَ، فَأَمَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَلَائِكَةَ وَالْمُرْسَلِينَ .

    “Dan Nabi SAW masuk ke dalam Masjidil Aqsa lalu mendirikan shalat. Kemudian beliau menoleh, dan ternyata para nabi seluruhnya telah berkumpul shalat bersama beliau. Dalam riwayat Ka’ab disebutkan: Sesungguhnya Jibril AS mengumandangkan azan, lalu turunlah para Malaikat dari langit, dan Allah mengumpulkan para utusan (Rasul). Maka Rasulullah SAW pun maju menjadi imam shalat bagi para malaikat dan para rasul tersebut.”

    3. Pujian pada Kesempurnaan Akhlak Nabi

    Bait penutup tarhim menyebutkan tentang pujian akan keluhuran akhlak Rasulullah SAW. “.. Wahai yang sangat mulia akhlaknya, wahai Utusan Allah, semoga shalawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu semua.”. Bagian ini merupakan pengingat bagi umat Muslim yang mendengarnya agar selalu meneladani sifat penuh kasih sayang, kelembutan, dan kemuliaan tabiat yang dimiliki oleh Nabi SAW.

    Pujian itu tidak hanya berhenti pada beliau SAW, Akan tetapi, siapapun yang mengikuti sunnah-sunnah beliau SAW berhak untuk dishalawati, yakni bagi keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sebuah kalimat penutup yang mengingatkan kita bahwa shalawat adalah media penghubung antar-entitas untuk kemudian dihubungkan kepada Wujud yang Satu, yakni Allah SWT.

    Sejarah Penyebarannya di Indonesia

    Shalawat Tarhim diciptakan oleh Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussary pada tahun 1959 di Mesir. Beliau adalah seorang qâri’ legendaris lulusan Universitas Al-Azhar dan Ketua Jam’iyyatul Qurrâ wal Huffâdz (Organisasi Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an) di Kairo.

    Tradisi Shalawat Tarhim masuk ke Indonesia dimulai sekitar akhir tahun 1960-an. Kepopulerannya bermula dari kunjungan resmi Syaikh Mahmud Al-Hussary ke Indonesia, tepatnya ke Solo dan Surabaya. Saat di Solo, Syaikh Mahmud Al-Hussary diminta untuk merekam suara indahnya melantunkan Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo (studio rekaman musik dan piringan hitam legendaris milik negara).

    Piringan hitam dan kaset hasil rekaman asli dari Lokananta tersebut kemudian mulai diputar secara luas. Radio pertama yang menyiarkannya secara rutin di menara masjid adalah di Surabaya. Penyiaran secara berkala setiap menjelang waktu Subuh ini memicu masjid-masjid lain di Jawa Timur—dan lambat laun ke seluruh nusantara—untuk ikut memutar rekaman tersebut.

    Bagi masyarakat Indonesia, lantunan Shalawat Tarhim bukan sekadar keindahan seni suara, melainkan memiliki fungsi sosial dan ibadah. Saat suara Tarhim berkumandang di suatu Masjid pada saat menjelang Subuh, selain menjadi penanda lembut bagi masyarakat untuk bangun dan bersiap-siap menuju masjid, ia juga berfungsi untuk membangunkan para jamaah di sekitar masjid untuk melaksanakan shalat Tahajud sebelum adzan berkumandang.

    Selain itu, ia juga menjadi penanda datangnya waktu imsak atau berakhirnya waktu sahur di Bulan Ramadhan. Hingga saat ini, suara khas mendayu-dayu yang merasuk ke hati tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya Islam di Indonesia.

    Berikut sejarah perekaman dan penyebaran Shalawat Tarhim yang diambil dari sebuah Kanal SoloposTV, Youtube:

    Siapakah Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary adalah seorang qari legendaris asal Mesir yang diakui dunia sebagai salah satu pionir penyiaran Al-Qur’an modern dan pencipta aransemen legendaris Shalawat Tarhim yang sering dikumandangkan di mesjid-mesjid di Indonesia.

    Bersama dengan Abdul Basit Abdul Samad, Mustafa Ismail, dan Muhammad Siddiq Al-Minshawi, beliau membentuk kuartet emas qari abad ke-20 yang membawa dampak luar biasa bagi peradaban Islam.

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary lahir pada 17 September 1917 (1 Zulhijjah 1335 H) di desa Shubra Al-Namlah, Tanta, Mesir. Julukan “Al-Hussary” (berarti pembuat/tukang tikar) di belakang namanya berasal dari sang ayah, seorang perajin tikar yang memiliki kebiasaan mulia menghibahkan tikar baru ke setiap masjid atau musala kosong yang ditemuinya.

    Syaikh al-Hussary kecil tumbuh di lingkungan yang mencintai Al-Qur’an. Beliau masuk sekolah Al-Qur’an pada usia 4 tahun, berhasil menghafal seluruh 30 juz Al-Qur’an di usia 8 tahun, dan mulai membaca di acara-acara publik lokal pada usia 12 tahun.

    Untuk memperdalam ilmu agama, beliau melanjutkan studinya ke institusi bergengsi, Universitas Al-Azhar, Kairo. Di sana, beliau mengambil spesialisasi ilmu al-Qur’an dan berhasil meraih ijazah al-Qirâ’at al-‘Asyr (penguasaan 10 metode bacaan Al-Qur’an yang sah dan bersanad).

    Pada tahun 1944, beliau memenangkan kompetisi membaca al-Qur’an (Musâbaqah Tilâwatil Qur’ân -MTQ) yang diselenggarakan oleh Radio Mesir. Langkah karier profesionalnya dimulai saat memenangkan kompetisi tersebut. Beliau mengungguli sekitar 200 qâri’ veteran lainnya. Penampilan perdananya disiarkan langsung pada 16 Februari 1944.

    Pada tahun 1957, beliau diangkat menjadi penyeleksi para qari di Mesir. Beliau dinilai dengan akurasi tajwidnya yang luar biasa. Dan tak lama setelah itu, sekitar tahun 1960, beliau dinobatkan sebagai Guru Besar Studi Al-Qur’an. Syaikh al-Hussary mencetak sejarah sebagai orang pertama di dunia yang merekam seluruh 30 juz Al-Qur’an dalam format audio menggunakan berbagai riwayat (termasuk riwayat Hafs, Warsh, Qalun, dan Ad-Duri). Ia juga mempelopori metode perekaman al-Qur’ân al-Mu’allim, sebuah metode pengajaran al-Qur’an bagi seorang guru pada tahun 1969.

    Suara emasnya membawanya berkeliling dunia sebagai duta Al-Qur’an. Beliau tercatat sebagai orang pertama yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an di tempat-tempat ikonik barat, seperti: Gedung Kongres (Capitol Hill) dan Gedung Putih, Amerika Serikat (1977), Haymarket Hall, London yang menghadap Sungai Thames (1976), Istana Buckingham, Inggris (1978).

    Di Indonesia sendiri, kunjungan beliau pada tahun 1959 menyisakan warisan berharga berupa rekaman Shalawat Tarhim asli di Studio Lokananta, Solo.

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary wafat pada 24 November 1980 di Kairo pada usia 63 tahun akibat penyakit hati yang dideritanya saat melakukan perjalanan ke Kuwait. Sebelum wafat, pembacaan publik terakhir beliau secara emosional dilakukan di depan Ka’bah (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

    Dalam tradisi para qâri’ besar di Timur Tengah, pembacaan publik (tilâwah ‘âmmah) adalah penampilan langsung di masjid-masjid besar atau acara kenegaraan yang dihadiri ribuan orang, bukan rekaman studio yang sunyi. Bagi Syaikh al-Hussary, momen terakhir tersebut memiliki makna yang sangat emosional dan mendalam karena:

    • Lokasi yang Sakral (Masjidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah).
    • Kondisi Fisik yang Lemah (Saat melantunkan ayat-ayat suci tersebut, beliau dalam kondisi kesehatan yang menurun akibat penyakit jantung dan hati yang dideritanya).
    • Pertanda Perpisahan menjelang wafatnya (setelah kunjungan singkatnya di Kuwait).

    Beliau mewariskan amanah agar sepertiga harta kekayaannya digunakan untuk membangun masjid dan pusat studi Al-Qur’an di kampung halamannya. Hingga detik ini, lantunan bacaan murattal-nya yang bertempo lambat, tenang, fasih, dan penuh penghayatan tetap menjadi standar rujukan utama belajar tajwid di seluruh dunia Islam.

    Semoga sya’ir Shalawat Tarhim ini dapat merasuk ke dalam jiwa kita sehingga Allah SWT berkenan menumbuhkan rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW dan mencintai-Nya. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    اَللّٰهُمَّ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفَى وَبِبَرَكَةِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ، اِقْضِ حَاجَاتِيْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاجْعَلْ حَيَاتِيْ مُبَارَكَةً وَخَاتِمَتِيْ حَسَنَةً

    Allâhumma bi jâhi nabiyyikal mushthafâ wa bi barakatish shalâti ‘alaihi, iqdhi hâjâtî fid-dunyâ wal-âkhirah, waj’al hayâtî mubârakatan wa khâtimatî hasanah.

    “Ya Allah, dengan kedudukan Nabi-Mu yang terpilih dan dengan berkah shalawat atasnya, kabulkanlah hajat-hajatku di dunia dan akhirat, jadikanlah hidupku penuh berkah, dan akhir hayatku dalam keadaan husnul khatimah.”

    Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

  • Rasulullah Tempat Mengadu

    Rasulullah Tempat Mengadu

    “Sungguh, tidak bisa dikatakan sebagai orang beriman bagi siapapun yang tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pengaduan. Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku’.“

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Amanah Akhir Zaman

    Sahabatku terkasih, berikut adalah sebuah risalah kelanjutan dari yang sebelum-sebelumnya mengenai keberadaan Rasulullah SAW yang selalu melekat pada qalbu orang yang mengimaninya sebagai utusan Allah yang tiada geser sedikitpun dari diri kita semua. Bahkan Beliaulah sebagai cikal bakal keberadaan kita.

    Telah difirmankan dalam surah an-Nisa’ [4] ayat 65:

    فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٦٥

    Fa lâ wa rabbika lâ yu’minûna ḫattâ yuḫakkimûka fîmâ syajara bainahum tsumma lâ yajidû fî anfusihim ḫarajam mimmâ qadlaita wa yusallimû taslîmâ

    “Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.”

    Maka demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mereka pada hakikatnya tidak beriman dengan iman yang sesungguhnya yang dapat diterima Allah, sebelum mereka menjadikan engkau, Muhammad, sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan atau dalam masalah yang tidak jelas dalam pandangan mereka, sehingga kemudian setelah tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dalam kedudukanmu sebagai hakim, dan mereka menerima keputusanmu dengan penerimaan yang sepenuhnya.

    Menjadikan Rasulullah sebagai tempat ‘curhat‘ dan pengaduan dari berbagai masalah yang kita hadapi saat ini baik masalah keduniaan, masalah akhirat, bahkan menyangkut masalah keluarga adalah juga menjadi tanda kita sebagai umat mukmin dan ini yang jarang diketahui, juga jarang dilakukan.

    Rasulullah adalah utusanNya yang merupakan rahmat Allah dengan sifat ar-RahmanNya yang tentunya melekat dengan diri kita, sebagaimana dikatakan tiada alam semesta tanpa adanya Nur Muhammad.

    Mursyid kami, Abah Guru Sekumpul menjelaskan tentang hal ini dalam sebuah Kanal Youtube:

    Apa yang dikatakan Mursyid kami Abah Guru Sekumpul adalah jalan kebenaran, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Yusuf [12] ayat 108:

    قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝١٠٨

    Qul hâdzihî sabîlî ad‘û ilallâh, ‘alâ bashîratin ana wa manittaba‘anî, wa sub-ḫânallâhi wa mâ ana minal-musyrikîn

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”

    Rasulullah SAW bersabda:

    أَنَا مِنَ اللهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ مِنِّي

    “Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku,” (HR. Ad-Dailami).

    Dengan hadits tersebut, jika memahami bahwa di dalam diri kita semua ada Rasulullah SAW, maka kita pun akan mengenal Allah. Wallâhu A’lam.

    مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

    “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

    Firman Allah dalam Surah al-Ahzab [33] ayat 21:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ ۝٢١

    Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ

    “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

    Sebagai Suri Tauladan tentu beliau tidak akan ada henti-hentinya senantiasa memberi petunjuk bagi yang memahami dan mengimaninya hingga akhir zaman. Wallâhu A’lam.

    Aku berlindung kepada Allah dari segala yang bisa menyesatkan manusia, kebenaran hanya milik Allah dan kesalahan timbul dari keterbatasan ilmu yang ku miliki akibat kebodohanku. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

  • Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    “Inilah sebuah amalan bacaan yang langsung diturunkan Allah Ta’ala karena 24.000 Nabi, termasuk Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril tidak mengetahuinya.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku, kekasih Allah. Pasulukan Loka Gandasasmita mengucapkan Dirgahayu ke 81 Tentara Nasional Indonesia, semoga tentara semakin menjadi pelindung rakyat, bangsa dan negara. Hubungan antara TNI dan rakyat diibaratkan seperti ikan dan air; tentara tidak akan bisa hidup dan bertahan tanpa dukungan rakyat.

    Seiring dengan perkembangan keadaan global baik dari sisi keamanan, perpolitikan, ekonomi, dan lebih dikhawatirkan adalah tergerusnya iman dari hati umat beragama karena telah susutnya ulama menjelang akhir zaman. Maka risalah ini sangat erat hubungan dengan keadaan itu.

    Dimulai dari Nabi Khidir AS bertanya kepada 24.000 Nabi tentang amalan bacaan yang melindungi pembacanya dari dicabut imannya. Namun demikian semuanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Hingga bertanyalah kepada Nabi Muhammad SAW namun Nabi pun tidak bisa menjawabnya dan beliau akan bertanya kepada Jibril A.S. Ternyata Malaikat Jibril pun tidak bisa menjawabnya hingga dia bertanya langsung pada Allah SWT. Dan inilah jawabanNya, sebagaimana yang diterangkan oleh Mursyid kami Abah Guru Sekumpul dalam sebuah Kanal Youtube:

    Ternyata inilah jawaban Allah Ta’ala terhadap pertanyaan tersebut:

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255).
    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286.
    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18.
    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27.
    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4.
    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5.
    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6.
    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7.

    Berikut rincian ayat-ayat tersebut agar bisa diamalkan sebagai amalan bacaan setiap hari.

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255):

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ە ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

    Allâhu lâ ilâha illâ huw, al-ḫayyul-qayyûm, lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ na’ûm, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi’idznih, ya‘lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum, wa lâ yuḫîthûna bisyai’im min ‘ilmihî illâ bimâ syâ’, wasi‘a kursiyyuhus-samâwâti wal-ardl, wa lâ ya’ûduhû ḫifdhuhumâ, wa huwal-‘aliyyul-‘adhîm

    “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286:

    اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ۝٢٨٥ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ۝٢٨٦

    Ãmanar-rasûlu bimâ unzila ilaihi mir rabbihî wal-mu’minûn, kullun âmana billâhi wa malâ’ikatihî wa kutubihî wa rusulih, lâ nufarriqu baina aḫadim mir rusulih, wa qâlû sami‘nâ wa atha‘nâ ghufrânaka rabbanâ wa ilaikal-mashîr. Lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus‘ahâ, lahâ mâ kasabat wa ‘alaihâ maktasabat, rabbanâ lâ tu’âkhidznâ in nasînâ au akhtha’nâ, rabbanâ wa lâ taḫmil ‘alainâ ishrang kamâ ḫamaltahû ‘alalladzîna ming qablinâ, rabbanâ wa lâ tuḫammilnâ mâ lâ thâqata lanâ bih, wa‘fu ‘annâ, waghfir lanâ, war-ḫamnâ, anta maulânâ fanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn

    “Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali. Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18:

    شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝١٨

    Syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm

    “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27:

    قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝٢٦ تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٢٧

    Qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi‘ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu‘izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr. Tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4:

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ۝١ اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ۝٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ۝٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ ۝٤

    Qul huwallâhu aḫad. Allâhush-shamad. Lam yalid wa lam yûlad. Wa lam yakul lahû kufuwan aḫad

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۙ ۝١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ ۝٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ ۝٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ ۙ ۝٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

    Qul a‘ûdzu birabbil-falaq. Min syarri mâ khalaq. Wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab. Wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad. Wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh). Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ ۝١ مَلِكِ النَّاسِ ۙ ۝٢ اِلٰهِ النَّاسِ ۙ ۝٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ە ۙ الْخَنَّاسِ ۖ ۝٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ ۙ ۝٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦

    Qul a‘ûdzu birabbin-nâs. Malikin-nâs. Ilâhin-nâs. Min syarril-waswâsil-khannâs. Alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs. Minal-jinnati wan-nâs

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ۝٧

    Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm. Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn. Ar-raḫmânir-raḫîm. Mâliki yaumid-dîn. Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în. Ihdinash-shirâthal-mustaqîm. Shirâthalladzîna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    Maka barangsiapa yang membaca seluruh rangkaian amalan bacaan tadi setiap selesai shalat, Allah Ta’ala menjamin sang pembacanya dari tercabut iman pada qalbunya hingga akhir hayatnya.

    Akhir Risalah:

    رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb

    “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 8)

Share with