“Sungguh, tidak bisa dikatakan sebagai orang beriman bagi siapapun yang tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pengaduan. Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku’.“
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞
Bismillâhirrahmânirrahîm
Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
Amanah Akhir Zaman
Sahabatku terkasih, berikut adalah sebuah risalah kelanjutan dari yang sebelum-sebelumnya mengenai keberadaan Rasulullah SAW yang selalu melekat pada qalbu orang yang mengimaninya sebagai utusan Allah yang tiada geser sedikitpun dari diri kita semua. Bahkan Beliaulah sebagai cikal bakal keberadaan kita.
Telah difirmankan dalam surah an-Nisa’ [4] ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ٦٥
Fa lâ wa rabbika lâ yu’minûna ḫattâ yuḫakkimûka fîmâ syajara bainahum tsumma lâ yajidû fî anfusihim ḫarajam mimmâ qadlaita wa yusallimû taslîmâ
“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.”
Maka demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mereka pada hakikatnya tidak beriman dengan iman yang sesungguhnya yang dapat diterima Allah, sebelum mereka menjadikan engkau, Muhammad, sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan atau dalam masalah yang tidak jelas dalam pandangan mereka, sehingga kemudian setelah tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dalam kedudukanmu sebagai hakim, dan mereka menerima keputusanmu dengan penerimaan yang sepenuhnya.
Menjadikan Rasulullah sebagai tempat ‘curhat‘ dan pengaduan dari berbagai masalah yang kita hadapi saat ini baik masalah keduniaan, masalah akhirat, bahkan menyangkut masalah keluarga adalah juga menjadi tanda kita sebagai umat mukmin dan ini yang jarang diketahui, juga jarang dilakukan.
Rasulullah adalah utusanNya yang merupakan rahmat Allah dengan sifat ar-RahmanNya yang tentunya melekat dengan diri kita, sebagaimana dikatakan tiada alam semesta tanpa adanya Nur Muhammad.
Mursyid kami, Abah Guru Sekumpul menjelaskan tentang hal ini dalam sebuah Kanal Youtube:
Apa yang dikatakan Mursyid kami Abah Guru Sekumpul adalah jalan kebenaran, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Yusuf [12] ayat 108:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ١٠٨
Qul hâdzihî sabîlî ad‘û ilallâh, ‘alâ bashîratin ana wa manittaba‘anî, wa sub-ḫânallâhi wa mâ ana minal-musyrikîn
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”
Rasulullah SAW bersabda:
أَنَا مِنَ اللهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ مِنِّي
“Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku,” (HR. Ad-Dailami).
Dengan hadits tersebut, jika memahami bahwa di dalam diri kita semua ada Rasulullah SAW, maka kita pun akan mengenal Allah. Wallâhu A’lam.
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Firman Allah dalam Surah al-Ahzab [33] ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ ٢١
Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Sebagai Suri Tauladan tentu beliau tidak akan ada henti-hentinya senantiasa memberi petunjuk bagi yang memahami dan mengimaninya hingga akhir zaman. Wallâhu A’lam.
Aku berlindung kepada Allah dari segala yang bisa menyesatkan manusia, kebenaran hanya milik Allah dan kesalahan timbul dari keterbatasan ilmu yang ku miliki akibat kebodohanku. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Leave a Reply