Author: admin

  • Kondisi Tubuh Setelah Kematian

    Kondisi Tubuh Setelah Kematian

    “Inilah kesempurnaan penciptaan Tuhan pada tubuh manusia pasca kematian”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku yang tercinta, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan lagi ke dalam tanah setelah kematiannya. Hal ini tercantum dalam Surah Thaha [20] ayat 55, Allah SWT berfirman:

    مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى ۝٥٥

    Min-hâ khalaqnâkum wa fîhâ nu‘îdukum wa min-hâ nukhrijukum târatan ukhrâ

    “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.”

    Secara medis, tubuh manusia berangsur-angsur akan menyatu dengan unsur tanah. Berikut ingin aku sampaikan sebuah ilmu pengetahuan medik tentang perjalanan tubuh manusia menjelang kematian dan pasca kematiannya. Simak video dalam sebuah Kanal Youtube di bawah ini:

    Sesungguhnya hiruk pikuk dunia, apapun itu, baik ditinjau dari ekonomi, politik, hubungan sosial, etika yang terkoyak, agama yang terinjak bersumber dari lalainya manusia pada kematian. Banyak orang yang menentukan sikapnya, menetapkan jalan kebijakan seolah mereka akan hidup selama-lamanya. Seolah hidup pasca kematian adalah akhir dari segalanya tanpa proses lanjutan.

    Ingatlah, dunia ini telah ada miliaran tahun lalu, tidakkah kita memikirkan kemanakah perginya jasad ataupun ruh makhluk yang ada sebelum kita saat ini? Hidup itu abadi, yang hancur dan rusak adalah yang dihidupkan.

    Syaikh Jalaluddin Rumi bersya’ir tentang kematian dan keabadian:

    Saat Aku Mati

    Saat peti jenazahku
    sedang dibawa keluar
    jangan pernah berpikir
    aku merindukan dunia ini.

    Jangan meneteskan air mata
    jangan meratap ata merasa iba
    aku tidak sedang jatuh
    ke dalam jurang monster.

    Saat kau melihat
    jenazahku sedang diusung
    jangan menangisi kepergianku
    aku tidak pergi
    aku sedang tiba di cinta abadi.

    Saat kau meninggalkanku
    di liang lahat
    jangan ucapkan selamat tinggal
    ingatlah bahwa kuburan
    hanyalah sebuah tirai
    bagi surga di baliknya.

    Kau hanya melihatku
    turun ke dalam kubur
    kini saksikanlah aku bangkit
    bagaimana mungkin ada akhir
    saat matahari terbenam atau
    bulan pun turun.

    Itu tampak seperti akhir
    terlihat seperti senja
    namun sesungguhnya itu adalah fajar
    saat kubur mengurungmu
    saat itulah jiwamu dibebaskan.

    Pernahkah kau melihat
    benih yang jatuh ke bumi
    tidak bangkit membawa kehidupan baru
    mengapa kau meragukan kebangkitan
    benih yang bernama manusia.

    Pernahkah kau melihat
    timba yang diturunkan ke sumur
    kembali dalam keadaan kosong
    mengapa meratapi jiwa
    saat ia bisa kembali
    seperti Yusuf dari dalam sumur.

    Saat untuk terakhir kalinya
    kau menutup mulutmu
    kata-kata dan jiwamu
    akan menjadi milik dunia
    tanpa tempat dan tanpa waktu.

    Setelah dikubur di dalam tanah, jasad manusia mengalami proses penguraian alami secara biologis hingga akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Berikut adalah tahapan proses perginya atau hancurnya jasad di dalam kubur:

    Hari ke-1 hingga ke-3: Aliran darah berhenti, suhu tubuh menurun, dan organ mulai mengalami autolisis (pembusukan oleh enzim internal). Tubuh mulai membiru dan membengkak akibat gas yang dihasilkan bakteri.

    Hari ke-7: Kulit mulai mengelupas, proses pembusukan semakin terlihat jelas, dan muncul bau tidak sedap akibat penguraian jaringan.

    Hari ke-40: Sebagian besar jaringan lunak (seperti otot dan daging) hancur dan mencair, sementara organ-organ dalam sudah tidak berfungsi.

    Hari ke-100: Sebagian besar daging dan jaringan tubuh habis, yang tersisa di dalam kubur umumnya tinggal kerangka atau tulang-belulang.

    Hari ke-1000 (sekitar 3 tahun atau lebih): Jasad secara keseluruhan telah hancur dan menyatu kembali dengan unsur tanah tempat ia dikuburkan.

    Sementara itu, dalam pandangan Islam, ketika seseorang meninggal dunia, jasadnya dikubur di dalam tanah untuk proses pembusukan dan penguraian alami, sementara ruh berpindah ke alam barzakh (alam penantian antara dunia dan akhirat).

    Proses di dalam tanah menyebabkan seluruh bagian tubuh akan hancur melebur dengan tanah, kecuali bagian tulang ekor (‘ajbudz dzanab). Tulang ekor ini diyakini utuh dan akan menjadi benih atau asal mula manusia dibangkitkan kembali oleh Allah SWT pada hari kiamat.

    Mengenai hal itu, Rasulullah SAW menjelaskan secara spesifik dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

    كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ خُلِقَ مِنْهُ وَفِيْهِ يُرَكَّبُ

    “Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah (jasadnya hancur) kecuali tulang ekor. Dari tulang ekor itulah ia diciptakan dan darinya ia akan disusun kembali (pada hari kiamat).” (H.R. Muslim No. 2955)

    Namun demikian, meski hukum alam memproses jasad manusia hingga hancur dan menyatu dengan tanah, Allah SWT mengecualikan beberapa golongan manusia yang jasadnya tetap utuh di dalam kubur. Di antaranya adalah para nabi dan rasul, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

    إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَآءِ

    “Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi.” (H.R. Abu Dawud No. 1047, Shahih)

    Selain para nabi, dalam beberapa riwayat hadits dan atsar juga disebutkan bahwa orang yang mati syahid (gugur di jalan Allah) dan para penghafal Al-Qur’an yang mengamalkan isinya sering kali dianugerahi jasad yang utuh sebagai bentuk kemuliaan dari Allah SWT.

    Semoga proses jasad setelah kematian yang aku persembahkan dalam Kanal Youtube di atas menjadikan kita memahami betapa sempurnaNya Allah dalam penciptaan diri kita maupun pengembaliannya kepada Sang Pemilik. Semoga bermanfaat.

    Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

  • Shalawat Tarhim Syaikh Al-Hussary

    Shalawat Tarhim Syaikh Al-Hussary

    “Bershalawat kepada Nabi SAW adalah sebuah amaliyah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT bagi orang-orang beriman.”

    Oleh: Admin

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku, para salik yang dicintai Allah SWT. Sya’ir shalawat yang ditulis oleh para pendahulu Islam, baik sejak masa para sahabat, maupun para ulama kontemporer, begitu banyak menghiasi khazanah keislaman. Sya’ir itu merupakan bentuk ekspresi kecintaan kepada Rasulullah SAW.

    Sya’ir itu kemudian dilantunkan, diberi irama/nada, dan dinyanyikan oleh berbagai kalangan, baik anak-anak maupun para orang tua. Apalagi di kalangan masyarakat Indonesia, lantunan sya’ir shalawat dibawakan dengan berbagai langgam irama baik diiringi alat musik maupun tanpa alat musik. Suara lantunan shalawat menghiasi masjid-masjid dan mushalla-mushalla di pelosok-pelosok negeri. Setiap hari dan dengan beraneka macam gaya.

    Sejatinya, bershalawat kepada Nabi SAW adalah sebuah amaliyah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT bagi orang-orang beriman. Sebagaimana Allah tegaskan dengan gamblang bahwa Allah dan Para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Lalu Allah juga turunkan perintah secara gamblang bagi orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi SAW.

    Perhatikan Surat al-Ahzab [33] ayat 56 berikut ini:

    اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

    Innallâha wa malâ’ikatahû yushallûna ‘alan-nabiyy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû ‘alaihi wa sallimû taslîmâ

    “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

    Selain itu, ada satu shalawat yang rekaman suaranya sering dikumandangkan di masjid-masjid di Indonesia menjelang adzan (terutama waktu Subuh). Shalawat itu adalah Shalawat Tarhim. Mungkin sejak kecil hingga saat ini anda tidak asing lagi dengan suara sebagaimana ditayangkan dalam Kanal Youtube di bawah ini:

    Dengan suara dan langgam yang khas menghiasi jagad Nusantara ini, shalawat ini begitu terkenal. Namun, segitu masyhurnya shalawat ini, tak banyak orang tahu apa maknanya, siapa penyusunnya dan siapa yang mengumandangkannya.

    Makna Shalawat Tarhim

    Simak teks bacaan lengkap shalawat Tahrim berikut ini:

    اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَآ إِمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَا رَسُوْلَ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا نَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا نَاصِرَ الْحَقِّ، يَارَسُوْلَ اللهْ، اَلصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَا مَنْ اَسْرَى بِكَ الْمُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالْأَنَامُ نِيَامْ، وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَآءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ، وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا، وَسَمِعْتَ نِدَآءً عَلَيْكَ السَّلَامْ ۞ يَا كَرِيْمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَا رَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلَّى اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَعَلَى آلِكَ وَأَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ ۞

    Ash-shalâtu was-salâmu ‘alaiyk. Yâ imâmal mujâhidîn. Yâ rasûlallâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ nâshiral hudâ. Yâ khayra khalqillâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ nâshiral haqqi, yâ rasûlallâh, ash-shalâtu was-salâmu ‘alaik. Yâ man asrâ bikal muhayminu laylan nilta. Mâ nilta wal-anâmu niyâm, wa taqaddamta lish-shalâti fashallâ kullu man fis-samâ-i wa antal imâm, wa ilal muntahâ rufi’ta karîman, wa sami’ta nidâ-an ‘alaykas salâm. Yâ karîmal akhlâq. Yâ rasûlallâh. shallallâhu ‘alayk. Wa ‘alâ âlika wa ash-hâbika ajma’în.

    “Shalawat dan salam semoga dilimpahkan padamu, wahai pemimpin para pejuang. Wahai Utusan Allah, shalawat serta salam semoga diberikan kepadamu, wahai penuntun petunjuk Ilahi, wahai makhluk yang paling baik. Shalawat dan salam semoga tercurahkan atasmu, wahai penolong kebenaran. Wahai Utusan Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu. Duhai engkau yang diperjalankan bersamamu al-Muhaimin (Yang Maha Melindungi) pada malam hari, engkau memperoleh (sesuatu) saat seluruh manusia tertidur, engkau pun maju untuk mendirikan shalat maka shalatlah seluruh penghuni langit sementara engkau menjadi imam, engkau dinaikkan dengan penuh kemuliaan menuju Sidratul Muntaha, lalu engkau mendengar seruan berupa salam atasmu, wahai yang sangat mulia akhlaknya, wahai Utusan Allah, semoga shalawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu semua.”

    Kandungan Shalawat Tarhim terdiri dari untaian doa, pujian dan pengakuan terhadap Rasulullah SAW yang dilantunkan untuk mengharap rahmat dan ampunan Allah SWT. Selain itu, dalam sya’ir shalawat tersebut terdapat juga sejarah peristiwa Mi’raj-nya Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha.

    Untuk memahami lebih mendalam, sya’ir yang dirangkai oleh Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussary ini menyimpan tiga makna utama di balik setiap baitnya:

    1. Pengakuan atas Keagungan dan Gelar Mulia Rasulullah SAW

    Pada bait-bait awal, lirik tarhim memberikan penghormatan tinggi kepada Nabi Muhammad SAW dengan menyebutkan gelar-gelar teologis beliau:

    Pertama, Pemimpin para pejuang (Imâmal Mujâhidîn). Menegaskan peran Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat yang tangguh dalam menegakkan keadilan. Imâmal Mujâhidîn menunjukkan makna bahwa beliau adalah pemimpin para pejuang dalam berbagai sektor; pejuang di medan perang, pejuang melawan hawa nafsu, pejuang dalam kesabaran hidup, pejuang dalam kesabaran meraih ridha Allah, pejuang dalam keistiqamahan iman, ketaqwaan, akhlaq, pejuang dalam kesabaran menerima penolakan-penolakan dakwah, dst.

    Jika anda bertekad untuk meraih kemuliaan dunia dan akhirat, maka beliaulah panutan dan rujukan untuk meraihnya. Jika anda bertekad membina rumah tangga dan membangun hubungan bersama pasangan, maka beliaulah protoype atau gambaran untuk mengambil uswah hasanah. Jika anda berprofesi sebagai pengusaha, beliaulah contoh yang ideal untuk mendudukkan profesi pengusaha dalam kaitannya kepada Tuhan. Jika anda seorang prajurit atau panglima perang, maka ambillah contoh-contoh dari beliau SAW.

    Kedua, Penuntun petunjuk Ilahi (Nâshiral Hudâ). Mengingatkan bahwa melalui beliaulah umat manusia dituntun keluar dari zaman kegelapan menuju cahaya iman. Beliau SAW adalah seorang yang teramat sangat ingin agar manusia ini bisa keluar dari kegelapan akibat terjerat oleh hawa nafsu. Beliau SAW adalah seorang yang tidak ridha jika ada manusia dari kalangan umatnya masuk Neraka.

    Nâshiral Hudâ bukanlah semata gelar panggilan, tapi itu adalah tugas dan amanah nubuwwah (kenabian) yang diamanahkan oleh Allah SWT. Menggiring dan memberikan jalan bagi manusia untuk menemukan jalan cahaya menuju Allah SWT. Hal itu seolah menjadi estafet bagi para pewaris beliau SAW, yakni para ulama yang dalam keulamaannya berpegang teguh pada Nubuwwah al-Muhammadiyyah.

    Ketiga, Makhluk terbaik (Khayra khalqillâh). Gelar sebaik-baik makhluq bukanlah semata gelar yang hanya terbatas pada penyebutan umatnya untuk beliau SAW. Akan tetapi, Allah SWT telah menyatakan itu dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, diantaranya:

    نۤۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ ۝١ مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ ۝٢ وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ ۝٣ وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ ۝٤

    Nûn, wal-qalami wa mâ yasthurûn. Mâ anta bini‘mati rabbika bimajnûn. Wa inna laka la’ajran ghaira mamnûn. Wa innaka la‘alâ khuluqin ‘adzhîm.

    “Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan. Berkat karunia Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila. Sesungguhnya bagi engkaulah pahala yang tidak putus-putus. Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam [68]: 1-4)

    Keempat, Pembela kebenaran sejati (Nâshiral haqqi). Pengakuan bahwa beliau adalah seorang pembela kebenaran sejati. Bahkan di beberapa ayat al-Qur’an disebutkan secara eksplisit bahwa beliau adalah “cahaya kebenaran” atau “lampu” yang memberikan cahaya penerang bagi umat manusia (Sirâjan Munîran).

    Allah SWT berfirman:

    وَّدَاعِيًا اِلَى اللّٰهِ بِاِذْنِهٖ وَسِرَاجًا مُّنِيْرًا ۝٤٦

    Wa dâ‘iyan ilallâhi bi’idznihî wa sirâjam munîrâ

    “dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta sebagai pelita yang menerangi.” (Q.S. Al-Ahzâb [33]: 46)

    Juga dalam Firman-Nya:

    … قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ۝١٥

    … Qad jâ’akum minallâhi nûruw wa kitâbum mubîn

    “… Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci yang jelas.” (Q.S. Al-Mâidah [5]: 15)

    2. Mengenang Peristiwa Mukjizat Isra Mi’raj

    Bait tengah shalawat ini secara khusus menggambarkan kemuliaan spiritual Nabi Muhammad SAW saat diperjalankan oleh Allah pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha (Isrâ wal-Mi’râj).

    Liriknya mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dan naik ke langit ketika manusia lain sedang terlelap tidur. Di sana, beliau mengimami seluruh penghuni langit (para Malaikat dan Nabi-Nabi terdahulu) untuk melaksanakan shalat. Ini menggambarkan legitimasi spiritual beliau sebagai pemimpin alam semesta.

    Susunan shalawat yang dikaitkan dengan peristiwa sejarah yang bersifat spiritual ini jarang sekali ditemukan dalam sya’ir shalawat yang lain. Dalam Kitab Al-Anwâr al-Bahiyyah min Isrâ’ wa Mi’râj Khairil Bariyyah karya Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani disebutkan tentang momen sakral ketika Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi para nabi, rasul, dan para malaikat penghuni langit di Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) sebelum beliau naik ke langit (Mi’raj):

    وَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَقَامَ يُصَلِّي، ثُمَّ الْتَفَتَ فَإِذَا النَّبِيُّونَ أَجْمَعُونَ يُصَلُّونَ مَعَهُ. وَفِي رِوَايَةِ كَعْبٍ: أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَذَّنَ، وَهَبَطَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنَ السَّمَاءِ، وَجَمَعَ اللهُ الْمُرْسَلِينَ، فَأَمَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَلَائِكَةَ وَالْمُرْسَلِينَ .

    “Dan Nabi SAW masuk ke dalam Masjidil Aqsa lalu mendirikan shalat. Kemudian beliau menoleh, dan ternyata para nabi seluruhnya telah berkumpul shalat bersama beliau. Dalam riwayat Ka’ab disebutkan: Sesungguhnya Jibril AS mengumandangkan azan, lalu turunlah para Malaikat dari langit, dan Allah mengumpulkan para utusan (Rasul). Maka Rasulullah SAW pun maju menjadi imam shalat bagi para malaikat dan para rasul tersebut.”

    3. Pujian pada Kesempurnaan Akhlak Nabi

    Bait penutup tarhim menyebutkan tentang pujian akan keluhuran akhlak Rasulullah SAW. “.. Wahai yang sangat mulia akhlaknya, wahai Utusan Allah, semoga shalawat selalu dilimpahkan kepadamu, untuk keluarga dan sahabatmu semua.”. Bagian ini merupakan pengingat bagi umat Muslim yang mendengarnya agar selalu meneladani sifat penuh kasih sayang, kelembutan, dan kemuliaan tabiat yang dimiliki oleh Nabi SAW.

    Pujian itu tidak hanya berhenti pada beliau SAW, Akan tetapi, siapapun yang mengikuti sunnah-sunnah beliau SAW berhak untuk dishalawati, yakni bagi keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya. Sebuah kalimat penutup yang mengingatkan kita bahwa shalawat adalah media penghubung antar-entitas untuk kemudian dihubungkan kepada Wujud yang Satu, yakni Allah SWT.

    Sejarah Penyebarannya di Indonesia

    Shalawat Tarhim diciptakan oleh Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussary pada tahun 1959 di Mesir. Beliau adalah seorang qâri’ legendaris lulusan Universitas Al-Azhar dan Ketua Jam’iyyatul Qurrâ wal Huffâdz (Organisasi Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an) di Kairo.

    Tradisi Shalawat Tarhim masuk ke Indonesia dimulai sekitar akhir tahun 1960-an. Kepopulerannya bermula dari kunjungan resmi Syaikh Mahmud Al-Hussary ke Indonesia, tepatnya ke Solo dan Surabaya. Saat di Solo, Syaikh Mahmud Al-Hussary diminta untuk merekam suara indahnya melantunkan Shalawat Tarhim di Radio Lokananta, Solo (studio rekaman musik dan piringan hitam legendaris milik negara).

    Piringan hitam dan kaset hasil rekaman asli dari Lokananta tersebut kemudian mulai diputar secara luas. Radio pertama yang menyiarkannya secara rutin di menara masjid adalah di Surabaya. Penyiaran secara berkala setiap menjelang waktu Subuh ini memicu masjid-masjid lain di Jawa Timur—dan lambat laun ke seluruh nusantara—untuk ikut memutar rekaman tersebut.

    Bagi masyarakat Indonesia, lantunan Shalawat Tarhim bukan sekadar keindahan seni suara, melainkan memiliki fungsi sosial dan ibadah. Saat suara Tarhim berkumandang di suatu Masjid pada saat menjelang Subuh, selain menjadi penanda lembut bagi masyarakat untuk bangun dan bersiap-siap menuju masjid, ia juga berfungsi untuk membangunkan para jamaah di sekitar masjid untuk melaksanakan shalat Tahajud sebelum adzan berkumandang.

    Selain itu, ia juga menjadi penanda datangnya waktu imsak atau berakhirnya waktu sahur di Bulan Ramadhan. Hingga saat ini, suara khas mendayu-dayu yang merasuk ke hati tersebut telah menjadi bagian dari identitas budaya Islam di Indonesia.

    Berikut sejarah perekaman dan penyebaran Shalawat Tarhim yang diambil dari sebuah Kanal SoloposTV, Youtube:

    Siapakah Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary adalah seorang qari legendaris asal Mesir yang diakui dunia sebagai salah satu pionir penyiaran Al-Qur’an modern dan pencipta aransemen legendaris Shalawat Tarhim yang sering dikumandangkan di mesjid-mesjid di Indonesia.

    Bersama dengan Abdul Basit Abdul Samad, Mustafa Ismail, dan Muhammad Siddiq Al-Minshawi, beliau membentuk kuartet emas qari abad ke-20 yang membawa dampak luar biasa bagi peradaban Islam.

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary lahir pada 17 September 1917 (1 Zulhijjah 1335 H) di desa Shubra Al-Namlah, Tanta, Mesir. Julukan “Al-Hussary” (berarti pembuat/tukang tikar) di belakang namanya berasal dari sang ayah, seorang perajin tikar yang memiliki kebiasaan mulia menghibahkan tikar baru ke setiap masjid atau musala kosong yang ditemuinya.

    Syaikh al-Hussary kecil tumbuh di lingkungan yang mencintai Al-Qur’an. Beliau masuk sekolah Al-Qur’an pada usia 4 tahun, berhasil menghafal seluruh 30 juz Al-Qur’an di usia 8 tahun, dan mulai membaca di acara-acara publik lokal pada usia 12 tahun.

    Untuk memperdalam ilmu agama, beliau melanjutkan studinya ke institusi bergengsi, Universitas Al-Azhar, Kairo. Di sana, beliau mengambil spesialisasi ilmu al-Qur’an dan berhasil meraih ijazah al-Qirâ’at al-‘Asyr (penguasaan 10 metode bacaan Al-Qur’an yang sah dan bersanad).

    Pada tahun 1944, beliau memenangkan kompetisi membaca al-Qur’an (Musâbaqah Tilâwatil Qur’ân -MTQ) yang diselenggarakan oleh Radio Mesir. Langkah karier profesionalnya dimulai saat memenangkan kompetisi tersebut. Beliau mengungguli sekitar 200 qâri’ veteran lainnya. Penampilan perdananya disiarkan langsung pada 16 Februari 1944.

    Pada tahun 1957, beliau diangkat menjadi penyeleksi para qari di Mesir. Beliau dinilai dengan akurasi tajwidnya yang luar biasa. Dan tak lama setelah itu, sekitar tahun 1960, beliau dinobatkan sebagai Guru Besar Studi Al-Qur’an. Syaikh al-Hussary mencetak sejarah sebagai orang pertama di dunia yang merekam seluruh 30 juz Al-Qur’an dalam format audio menggunakan berbagai riwayat (termasuk riwayat Hafs, Warsh, Qalun, dan Ad-Duri). Ia juga mempelopori metode perekaman al-Qur’ân al-Mu’allim, sebuah metode pengajaran al-Qur’an bagi seorang guru pada tahun 1969.

    Suara emasnya membawanya berkeliling dunia sebagai duta Al-Qur’an. Beliau tercatat sebagai orang pertama yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an di tempat-tempat ikonik barat, seperti: Gedung Kongres (Capitol Hill) dan Gedung Putih, Amerika Serikat (1977), Haymarket Hall, London yang menghadap Sungai Thames (1976), Istana Buckingham, Inggris (1978).

    Di Indonesia sendiri, kunjungan beliau pada tahun 1959 menyisakan warisan berharga berupa rekaman Shalawat Tarhim asli di Studio Lokananta, Solo.

    Syaikh Mahmud Khalil al-Hussary wafat pada 24 November 1980 di Kairo pada usia 63 tahun akibat penyakit hati yang dideritanya saat melakukan perjalanan ke Kuwait. Sebelum wafat, pembacaan publik terakhir beliau secara emosional dilakukan di depan Ka’bah (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

    Dalam tradisi para qâri’ besar di Timur Tengah, pembacaan publik (tilâwah ‘âmmah) adalah penampilan langsung di masjid-masjid besar atau acara kenegaraan yang dihadiri ribuan orang, bukan rekaman studio yang sunyi. Bagi Syaikh al-Hussary, momen terakhir tersebut memiliki makna yang sangat emosional dan mendalam karena:

    • Lokasi yang Sakral (Masjidil Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah).
    • Kondisi Fisik yang Lemah (Saat melantunkan ayat-ayat suci tersebut, beliau dalam kondisi kesehatan yang menurun akibat penyakit jantung dan hati yang dideritanya).
    • Pertanda Perpisahan menjelang wafatnya (setelah kunjungan singkatnya di Kuwait).

    Beliau mewariskan amanah agar sepertiga harta kekayaannya digunakan untuk membangun masjid dan pusat studi Al-Qur’an di kampung halamannya. Hingga detik ini, lantunan bacaan murattal-nya yang bertempo lambat, tenang, fasih, dan penuh penghayatan tetap menjadi standar rujukan utama belajar tajwid di seluruh dunia Islam.

    Semoga sya’ir Shalawat Tarhim ini dapat merasuk ke dalam jiwa kita sehingga Allah SWT berkenan menumbuhkan rasa cinta kita kepada Rasulullah SAW dan mencintai-Nya. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    اَللّٰهُمَّ بِجَاهِ نَبِيِّكَ الْمُصْطَفَى وَبِبَرَكَةِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ، اِقْضِ حَاجَاتِيْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاجْعَلْ حَيَاتِيْ مُبَارَكَةً وَخَاتِمَتِيْ حَسَنَةً

    Allâhumma bi jâhi nabiyyikal mushthafâ wa bi barakatish shalâti ‘alaihi, iqdhi hâjâtî fid-dunyâ wal-âkhirah, waj’al hayâtî mubârakatan wa khâtimatî hasanah.

    “Ya Allah, dengan kedudukan Nabi-Mu yang terpilih dan dengan berkah shalawat atasnya, kabulkanlah hajat-hajatku di dunia dan akhirat, jadikanlah hidupku penuh berkah, dan akhir hayatku dalam keadaan husnul khatimah.”

    Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

  • Rasulullah Tempat Mengadu

    Rasulullah Tempat Mengadu

    “Sungguh, tidak bisa dikatakan sebagai orang beriman bagi siapapun yang tidak menjadikan Rasulullah SAW sebagai tempat pengaduan. Rasulullah SAW bersabda: ‘Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku’.“

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Amanah Akhir Zaman

    Sahabatku terkasih, berikut adalah sebuah risalah kelanjutan dari yang sebelum-sebelumnya mengenai keberadaan Rasulullah SAW yang selalu melekat pada qalbu orang yang mengimaninya sebagai utusan Allah yang tiada geser sedikitpun dari diri kita semua. Bahkan Beliaulah sebagai cikal bakal keberadaan kita.

    Telah difirmankan dalam surah an-Nisa’ [4] ayat 65:

    فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٦٥

    Fa lâ wa rabbika lâ yu’minûna ḫattâ yuḫakkimûka fîmâ syajara bainahum tsumma lâ yajidû fî anfusihim ḫarajam mimmâ qadlaita wa yusallimû taslîmâ

    “Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian, tidak ada keberatan dalam diri mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.”

    Maka demi Tuhanmu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mereka pada hakikatnya tidak beriman dengan iman yang sesungguhnya yang dapat diterima Allah, sebelum mereka menjadikan engkau, Muhammad, sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan atau dalam masalah yang tidak jelas dalam pandangan mereka, sehingga kemudian setelah tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dalam kedudukanmu sebagai hakim, dan mereka menerima keputusanmu dengan penerimaan yang sepenuhnya.

    Menjadikan Rasulullah sebagai tempat ‘curhat‘ dan pengaduan dari berbagai masalah yang kita hadapi saat ini baik masalah keduniaan, masalah akhirat, bahkan menyangkut masalah keluarga adalah juga menjadi tanda kita sebagai umat mukmin dan ini yang jarang diketahui, juga jarang dilakukan.

    Rasulullah adalah utusanNya yang merupakan rahmat Allah dengan sifat ar-RahmanNya yang tentunya melekat dengan diri kita, sebagaimana dikatakan tiada alam semesta tanpa adanya Nur Muhammad.

    Mursyid kami, Abah Guru Sekumpul menjelaskan tentang hal ini dalam sebuah Kanal Youtube:

    Apa yang dikatakan Mursyid kami Abah Guru Sekumpul adalah jalan kebenaran, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Yusuf [12] ayat 108:

    قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ ۝١٠٨

    Qul hâdzihî sabîlî ad‘û ilallâh, ‘alâ bashîratin ana wa manittaba‘anî, wa sub-ḫânallâhi wa mâ ana minal-musyrikîn

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.”

    Rasulullah SAW bersabda:

    أَنَا مِنَ اللهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ مِنِّي

    “Aku berasal dari Allah, sedangkan orang-orang mukmin berasal dariku,” (HR. Ad-Dailami).

    Dengan hadits tersebut, jika memahami bahwa di dalam diri kita semua ada Rasulullah SAW, maka kita pun akan mengenal Allah. Wallâhu A’lam.

    مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

    “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

    Firman Allah dalam Surah al-Ahzab [33] ayat 21:

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ ۝٢١

    Laqad kâna lakum fî rasûlillâhi uswatun ḫasanatul limang kâna yarjullâha wal-yaumal-âkhira wa dzakarallâha katsîrâ

    “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”

    Sebagai Suri Tauladan tentu beliau tidak akan ada henti-hentinya senantiasa memberi petunjuk bagi yang memahami dan mengimaninya hingga akhir zaman. Wallâhu A’lam.

    Aku berlindung kepada Allah dari segala yang bisa menyesatkan manusia, kebenaran hanya milik Allah dan kesalahan timbul dari keterbatasan ilmu yang ku miliki akibat kebodohanku. Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

  • Hati yang Berbolak-balik

    Hati yang Berbolak-balik

    “Hati manusia memunculkan suasana dan perasaan, kadang sedih dan kadang gembira, kadang menggiring manusia untuk taat dan kadang menggiring manusia untuk maksiat.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Saudaraku yang senantiasa dijaga oleh Allah SWT. Hati sanubari manusia sangatlah misterius. Terkadang ia memunculkan suasana duka, baik dengan atau tanpa sebab. Saat lain, terkadang ia memunculkan suasana bahagia, juga baik dengan sebab tertentu ataupun tanpanya.

    Hati seperti sebuah pusat kendali yang mengontrol dan mengendalikan semua perbuatan manusia, baik ataupun buruk. Darinya muncul rasa cinta, rasa benci, rasa bahagia, rasa menderita, dst. Rasulullah SAW memberikan sinyal tentang hati bahwa:

    إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: « اَللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ »

    Dari Abdullah bin Amr radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman (Maha Pengasih) seperti satu hati. Allah membolak-balikkan hati itu ke mana saja yang Dia kehendaki.” Lalu Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk tetap taat kepada-Mu.” (H.R. Muslim no. 2654 dalam Kitab al-Qadar)

    Dalam redaksi lain, Rasulullah SAW juga mengajarkan sebuah doa:

    يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

    Yâ muqallibal qulûb, tsabbit qalbî ‘alâ dînik

    “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (H.R. Tirmidzi, Hasan)

    Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW telah memberikan sinyal-sinyal bahwa:

    • Allah Maha Berkuasa atas dan menggenggam hati manusia yang beraneka macam seperti satu macam.
    • Allah-lah yang memberi hidayah, membimbing ke jalan lurus, atau jika Dia kehendaki, membiarkan seseorang tersesat karena kehendaknya sendiri.
    • Manusia tak mampu mengendalikan hatinya sendiri yang sering dan mudah berubah-ubah serta berbolak-balik.
    • Pentingnya memohon keteguhan hati agar selalu berada dalam kebaikan dan ketaatan.
    • Jangan sombong atau terlalu yakin bahwa kita mampu menjamin diri kita sendiri akan selalu berada di jalan yang benar tanpa meminta pertolongan Allah.

    Sehubungan dengan hati manusia yang berada dalam genggaman Allah SWT, maka tak satupun manusia mampu mengendalikan rasa sedih, bahagia, senang, benci, taat, maksiat, dst. Hak mutlak Allah-lah semua rasa yang muncul dari hati manusia.

    Allah SWT juga memberikan petunjuk:

    وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى ۝٤٣

    Wa annahû huwa adl-ḫaka wa abkâ

    “Bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (Q.S. An-Najm [53]: 43)

    Dalam sebuah ayat, Allah SWT juga memberikan sinyal agar kita mengetahui dengan ilmu tentang rahasia-rahasia hati yang antara diri kita sendiri dengan hati kita ada batas. Perhatikan ayat berikut:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ۝٢٤

    Yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum, wa‘lamû annallâha yaḫûlu bainal-mar’i wa qalbihî wa annahû ilaihi tuḫsyarûn

    “Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan (iman). Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 24)

    Ayat tersebut diturunkan sebagai panduan mendasar tentang hubungan spiritual antara manusia, petunjuk agama, dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Ayat ini dimulai dengan seruan khusus: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu….”. Apa yang dimaksud dengan “sesuatu yang memberi kehidupan“?

    Qatadah dan As-Suddi mengartikan bahwa kehidupan yang dimaksud adalah iman dan Islam. Tanpa iman, manusia secara biologis hidup, namun ruh dan hatinya mati. Seruan khusus dalam ayat tersebut adalah panggilan menuju kehidupan sejati (limâ yuhyîkum). Sementara itu, Mujahid berpendapat bahwa seruan ini adalah ajakan menuju kebenaran dan Ilmu.

    Selain itu, dalam konteks asbâbun nuzul (sebab turunnya ayat), ayat ini turun pasca Perang Badar, Ibnu Ishaq menjelaskan bahwa seruan ini mencakup perintah berjihad. Jihad memberikan “kehidupan” berupa kemuliaan, kemerdekaan, dan keselamatan bagi umat Muslim di dunia dan akhirat.

    Dalam perspektif kaidah hukum (fiqh), ayat tersebut menuntut pemenuhan kepatuhan yang mutlak dan segera (istijâbah). Bahkan dalam beberapa riwayat, jika seorang sahabat sedang shalat kemudian dipanggil oleh Rasulullah SAW, ia wajib memutus atau menunda shalatnya untuk menjawab panggilan Nabi terlebih dahulu karena urgensi ayat ini.

    Lalu apa makna spesifik bahwa “dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dan hatinya“?

    Sahabat Ibnu Abbas RA dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah berkuasa membatasi orang mukmin agar hatinya kokoh dan tidak tergelincir pada kekafiran. Sebaliknya, Allah juga berkuasa membatasi orang kafir sehingga ia tidak bisa meraih keimanan jika ia terus-menerus menolak kebenaran. Sementara dalam Tafsir As-Sa’di, bahwa batas itu adalah sebuah hukuman atas penundaan. Jika manusia sengaja menolak perintah Allah saat pertama kali mendengarnya, Allah bisa menghukumnya dengan mengunci mati hatinya. Ini adalah “batas” yang mengerikan, di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk bertobat karena hatinya telah dipalingkan.

    Dalam Tafsir Qatadah, “batas” dalam ayat tersebut adalah bermakna kedekatan yang mutlak. Beliau menyebutkan bahwa makna pembatasan ini serupa dengan apa yang disebutkan dalam Surat Qaf ayat 16, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya“. Allah berada di antara manusia dan hatinya sendiri, artinya Allah jauh lebih tahu isi hati, niat, dan bisikan jiwa seseorang daripada orang itu sendiri.

    Ada juga yang menafsirkan bahwa “batas” yang dimaksud pada ayat tersebut adalah kematian dan hilangnya kesempatan. Allah bisa mengambil nyawa manusia kapan saja, membatasi dirinya dengan hatinya (kemampuan beramal), sehingga kesempatan untuk memenuhi seruan-Nya hilang selamanya, na’ûdzu billâhi min dzâlik.

    Dalam kehidupan sehari-hari, hati manusia sering kali menjadi pusat dari segala aktivitas spiritual, emosional, dan keputusan moral. Di dalam Islam, hati bukan sekadar organ fisik, tetapi simbol dari kedalaman spiritual dan pusat kehidupan batin. Allah memiliki kuasa penuh atas hati manusia sehingga disebut juga dengan Muqallibal Qulûb (Maha Membolak-balikkan hati).

    Banyak orang yang awalnya beriman kepada Allah, namun pada akhirnya murtad atau keluar dari Islam. Sebaliknya, ada pula yang sebelumnya hidup dalam kekafiran, tetapi kemudian menerima hidayah dan masuk Islam. Oleh karena itu, kita wajib selalu memohon perlindungan kepada Allah agar iman kita tetap kokoh dan kita meninggal dalam keadaan beriman.

    Ketika dikatakan bahwa Allah membolak-balikkan hati, artinya Allah memiliki kekuasaan untuk mengubah perasaan, niat, atau keinginan yang ada dalam hati seseorang. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa Allah dapat menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-An’am [6] ayat 125:

    فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ۝١٢٥

    Fa may yuridillâhu ay yahdiyahû yasyraḫ shadrahû lil-islâm, wa may yurid ay yudlillahû yaj‘al shadrahû dlayyiqan ḫarajang ka’annamâ yashsha‘‘adu fis-samâ’, kadzâlika yaj‘alullâhur-rijsa ‘alalladzîna lâ yu’minûn.

    “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”

    Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam karyanya Mukhtashar Minhajul Qashidin Juz 1, halaman 188 menjelaskan tentang keadaan hati manusia dalam kaitannya dengan Yang Maha Membolak-balikkan hati itu ada tiga kategori:

    Pertama, hati yang dipenuhi ketaqwaan dan hati yang disucikan oleh riyâdhah atau latihan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, hatinya bersih dari kotoran-kotoran akhlak yang tercela. Orang yang memiliki hati yang demikian angannya selalu tertuju pada kebaikan, dan ia dianugerahi hidayah atau petunjuk kepada jalan kebajikan.

    Kedua, hati yang tidak mendapatkan pertolongan atau petunjuk, hatinya dipenuhi hawa nafsu, dan terlumuri oleh kotoran-kotoran akhlak yang tercela. Hatinya gelap tanpa cahaya. Sehingga ia tidak bisa dipengaruhi oleh nasihat atau peringatan.

    Ketiga, hati yang dikuasai hawa nafsu, dan terkadang hawa nafsunya sangat kuat, karena dibantu oleh bujuk rayu setan. Sehingga ia mudah untuk melakukan kemaksiatan, walaupun demikian ia terkadang masih berbuat kebaikan.

    Pada prinsipnya, seseorang yang melakukan kebaikan atau keburukan dapat mengalami perubahan. Mereka yang awalnya baik bisa menjadi buruk, begitu pula sebaliknya. Perubahan ini disebabkan oleh bisikan-bisikan yang muncul dari hati mereka.

    Setiap orang diciptakan dengan kecenderungan tertentu. Bagi mereka yang ditakdirkan untuk melakukan kebaikan, maka perbuatan baik akan terasa mudah untuk dilakukan. Sebaliknya, bagi mereka yang ditakdirkan untuk melakukan keburukan, perbuatan buruk akan lebih mudah dijalankan. Kecenderungan ini mencerminkan bagaimana seseorang dipengaruhi oleh hatinya dalam mengambil tindakan, baik atau buruk.

    Pemahaman bahwa Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia membawa pesan pentingnya ketergantungan kepada Allah, dan tanggung jawab manusia untuk menjaga hatinya tetap dalam keadaan yang baik. Meskipun Allah berkuasa penuh atas hati manusia, Dia juga memberikan manusia kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Oleh karena itu, manusia harus terus berusaha, berdoa, dan selalu berharap kepada Allah agar diberikan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.

    Semoga Allah SWT penuhi hati kita dengan kebaikan dan ketaqwaan, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ وَعَلَى مَحَبَّتِكَ وَعَلَى مَحَبَّةِ رَسُوْلِكَ

    Allâhumma yâ muqallibal qulûbi tsabbit qalbî ‘alâ dînik, wa ‘alâ mahabbatik, wa ‘alâ mahabbati rasûlik

    “Wahai Allah, wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan di atas kecintaan kepada-Mu, dan di atas kecintaan kepada Utusan-Mu.”

    Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

     

  • Filsafat Wayang, Sunan Kalijaga dan Imam Ghazali

    Filsafat Wayang, Sunan Kalijaga dan Imam Ghazali

    “Wayang mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari terang, tetapi sering muncul dari bayangan. Bayangan adalah wilayah refleksi: sesuatu yang tidak mutlak, tapi memantulkan kenyataan”.

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Wayang bukan sekadar warisan budaya; ia adalah bahasa simbol yang hidup, berdenyut dalam jiwa masyarakat Nusantara. Dalam setiap lakon, setiap bayangan di balik kelir, tersimpan tafsir tentang manusia dan kekuasaan, kebenaran dan kebohongan, kesadaran dan kepura-puraan. Di hadapan layar wayang, manusia diajak untuk bercermin—bukan pada tokoh-tokoh agung di panggungnya, tetapi pada bayangan dirinya sendiri.

    Wayang sudah ada sejak 1500 SM. Berasal dari kata Ma Hyang (Menuju Hyang). Awalnya adalah medium untuk mendatangkan arwah leluhur, sesuai kepercayaan masyarakat Jawa saat itu. Dalam tradisi ini, seorang dalang berprofesi sebagai saman. Bentuk wayang adalah gambaran para leluhur yang sudah meninggal, sehingga wayang juga dimaknai sebagai “bayang-bayang”.

    Setelah terjadi perkembangan dan penyesuaian, ketika bangsa Nusantara kontak dengan agama Hindu, wayang berkembang dengan mengambil cerita dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Perkembangan wayang kemudian berkembang sebagai pertunjukkan panggung teater dan memuncak pada adab XI. Pertunjukkan wayang dipergelarkan dan menjadi daya tarik bagi yang menontonnya. Pokok pergelaran wayang sifatnya masih magis-religius.

    Setelah terjadi kesepakatan antara Sultan Demak dengan Para Wali, maka seni wayang perlu diteruskan dengan perubahan-perubahan yang sesuai dengan zaman. Kesenian wayang dapat dijadikan alat dakwah Islam yang baik. Bentuk wayang yang mirip dengan arca-arca seperti manusia harus dideformasi karena diharamkan menurut Islam. Cerita-cerita dewa harus diubah dan diisi paham yang mengandung jiwa Islam untuk membuang kemusyrikan. Cerita wayang harus diisi dakwah agama yang mengandung keimanan, ibadah, akhlak, kesusilaan, dan sopan santun.

    Wayang lahir dari masyarakat yang menjadikan simbol dan rasa sebagai medium memahami realitas. Ia mengajarkan bahwa dunia ini tak hanya terdiri dari yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi; bahwa setiap gerak lahir harus disertai kesadaran batin. Maka, ketika wayang dipahami sebagai media kritik sosial, sesungguhnya ia berbicara tentang pembongkaran lapisan kepalsuan dalam kehidupan: politik yang kehilangan nurani, kekuasaan tanpa kebijaksanaan, dan manusia yang terperangkap dalam bayangan dirinya sendiri.

    Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum al-Din, menyatakan bahwa sumber kerusakan masyarakat bukan semata pada struktur luar—politik, ekonomi, atau institusi—tetapi pada kerusakan hati manusia.

    Bagi Al-Ghazali, masyarakat yang adil hanya dapat lahir dari individu yang jernih hatinya, karena hati adalah cermin tempat cahaya Tuhan memancar. Dalam konteks wayang, prinsip ini hidup dalam struktur lakon: perang besar antara Pandawa dan Kurawa bukan semata pertarungan fisik, tetapi simbol pertarungan batin—antara nafs ammarah (hawa nafsu yang merusak) dan qalb yang tercerahkan.

    Kritik sosial dalam wayang bukanlah teriakan di luar, melainkan proses penyadaran batin di dalam. Ketika Semar berbicara di sela goro-goro, ia menertawakan penguasa, menyinggung keangkuhan, namun melakukannya dengan kelembutan—sebuah gaya kritik khas Al-Ghazalian: menegur dengan kebijaksanaan, bukan dengan kemarahan. Kritik wayang adalah tazkiyah—penyucian—bukan pemberontakan tanpa arah.

    Wayang di tangan Sunan Kalijaga menjadi media dakwah yang efektif karena memadukan spiritualitas Islam dengan kebijaksanaan Jawa. Ia dikenal bukan semata sebagai dalang dalam arti teknis, melainkan sebagai dalang spiritual—pengarah kesadaran masyarakat melalui simbol-simbol budaya. Kalijaga memahami bahwa dakwah dan kritik sosial harus menyentuh rasa, bukan sekadar logika.

    Dalam wayang, ia menemukan wadah bagi pesan moral yang menyelinap halus ke hati masyarakat melalui simbol, humor, dan perumpamaan. Filsafatnya berakar pada keyakinan bahwa perubahan sosial sejati tidak dapat dipaksakan dari luar, tetapi tumbuh dari kesadaran batin manusia sendiri. Karena itu, dalang dalam pandangan Kalijaga bukan hanya penghibur, tetapi pamomong—guru jiwa yang menuntun masyarakat menuju kebijaksanaan.

    Ketika wayang menampilkan tokoh seperti Sengkuni atau Duryodana, penonton tidak hanya menyaksikan keburukan, tetapi belajar mengenali bayangan gelap dalam dirinya sendiri. Dengan demikian, kritik sosial dalam tradisi wayang adalah proses penyucian kolektif, bukan sekadar perlawanan verbal; ia menyembuhkan, bukan menghancurkan.

    Lebih dalam lagi, filsafat Kalijaga mengajarkan bahwa setiap bentuk kesenian harus memancarkan cahya sejati, yakni sinar kebijaksanaan yang berasal dari kesadaran spiritual. Dalam pewayangan, sinar itu tercermin dari hubungan antara dalang dan penonton—antara yang menggerakkan dan yang digerakkan.

    Dalang bukan hanya pusat kuasa artistik, tetapi lambang dari nur ilahi yang mengatur keseimbangan kosmos. Ketika dalang menggerakkan tokoh-tokoh wayang, ia tidak sedang menciptakan ilusi, melainkan memperlihatkan kenyataan hidup: bahwa manusia pun digerakkan oleh kekuatan yang lebih tinggi, dan bahwa kebebasan sejati adalah tunduk pada harmoni ilahi.

    Dalam filsafat Jawa, kehidupan yang ideal adalah tata titi tentreming bumi—tatanan yang seimbang, tenteram, dan harmonis. Segala bentuk ketidakseimbangan, baik sosial maupun batin, dipandang sebagai tanda hilangnya rasa sejati.

    Maka kritik sosial dalam wayang sejatinya adalah usaha mengembalikan harmoni yang terganggu. Konsep Manunggaling Kawula-Gusti (kesatuan antara manusia dan Yang Ilahi) bukanlah mistik pasif, melainkan kesadaran etis: manusia hanya akan selaras dengan Tuhan jika ia menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Ketika tatanan sosial rusak, itu berarti manusia telah kehilangan rasa batin—kesadaran spiritual yang menjadi sumber keadilan.

    Dalam lakon-lakon besar seperti Bharatayudha atau Rama Tambak, pertarungan antara dharma dan adharma (kebenaran dan kebatilan) menjadi simbol dari perjuangan masyarakat menjaga keseimbangan nilai. Wayang menjadi ruang tempat rakyat Jawa belajar berpikir kritis melalui rasa, bukan melalui dogma.

    Dalam tradisi pewayangan, tokoh Semar menjadi penjaga moral sekaligus pengingat kosmis. Ia bukan hanya pelawak atau penghibur, melainkan simbol nurani rakyat yang selalu berani menegur penguasa dengan bahasa sederhana. Dalam tubuh Semar terkandung paradoks: rupa yang buruk namun hati yang suci, tubuh yang renta namun jiwa yang abadi.

    Semar adalah representasi ideal dari kritik sosial yang berakar pada welas asih—teguran yang lahir dari cinta, bukan dari kebencian. Dalam konteks modern, figur Semar adalah suara moral masyarakat yang mencoba menertawakan absurditas kekuasaan, sambil tetap memelihara empati terhadap sesama.

    Wayang mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu datang dari terang, tetapi sering muncul dari bayangan. Bayangan adalah wilayah refleksi: sesuatu yang tidak mutlak, tapi memantulkan kenyataan. Dalam dunia modern yang penuh hiruk-pikuk, wayang memberi pelajaran penting: kritik tidak selalu harus keras untuk menjadi tajam.

    Dalam dunia maya yang dipenuhi komentar dan kemarahan, tradisi wayang menawarkan cara lain: menertawakan kekuasaan dengan kebijaksanaan, menyindir tanpa menghina, menegur tanpa merendahkan. Dalang mengatur dunia kecil di balik layar bukan untuk menaklukkan, melainkan untuk menuntun penonton memahami dirinya sendiri. Kritik sosial yang lahir dari kesadaran spiritual semacam ini lebih dalam daripada sekadar protes politik; ia membangkitkan rasa tanggung jawab moral sebagai manusia dan warga.

    Kini, wayang menghadapi zaman baru: dunia digital di mana “bayangan” berpindah ke layar kaca dan layar ponsel. Namun, esensi wayang tetap sama—ia berbicara tentang manusia, tentang ketimpangan dan keserakahan, tentang pencarian makna dalam dunia yang kehilangan arah. Filsafat Al-Ghazali dan kebijaksanaan Kalijaga tetap relevan di sini. Kritik sosial bukan soal siapa yang paling lantang bersuara, melainkan siapa yang paling jernih menyuarakan nurani. Wayang digital, animasi, dan teater modern bisa menjadi panggung baru kesadaran, asalkan tidak kehilangan ruhnya: kesederhanaan, kejujuran, dan keseimbangan antara hiburan dan pencerahan.

    Lebih dari itu, wayang juga menantang manusia modern untuk memikirkan kembali makna “bayangan” dalam dunia yang penuh pencitraan. Bila dahulu bayangan di kelir menjadi sarana kontemplasi, kini bayangan di layar digital sering menjadi tirai yang menutupi kebenaran. Wayang mengajarkan bahwa bayangan seharusnya memperlihatkan, bukan menutupi; menyingkap, bukan menipu. Maka tugas manusia masa kini adalah menemukan kembali kejujuran batin dalam dunia yang telah menjadikan “penampakan” lebih penting daripada hakikat.

    Wayang mengajarkan bahwa setiap bayangan adalah peringatan bagi manusia agar tidak terperangkap dalam gelapnya kuasa diri. Filsafat Al-Ghazali mengingatkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati yang bersih, sedangkan Kalijaga menunjukkan bahwa keindahan dan sindiran bisa menjadi jalan dakwah dan pembebasan.

    Keduanya bertemu dalam satu pandangan: kritik sosial sejati adalah cermin spiritual. Ia tidak menghancurkan, melainkan membimbing. Ia tidak melawan manusia, tetapi melawan kebodohan, keserakahan, dan kemunafikan dalam diri manusia itu sendiri. Di zaman yang bising oleh kata-kata, wayang menegur kita dengan keheningan yang bermakna. Ia mengingatkan bahwa tugas manusia bukan sekadar mengubah dunia, tetapi terlebih dahulu menjernihkan dirinya—karena dari kejernihan itulah keadilan sosial dapat tumbuh.

    Wayang akhirnya menjadi ruang bagi manusia untuk berlatih menjadi bijaksana: belajar menertawakan kesombongan diri, memahami ironi kehidupan, dan menerima paradoks antara terang dan gelap. Dalam cahaya yang temaram di balik kelir, manusia menemukan dirinya sendiri—sebagai bayangan yang fana, namun sekaligus sebagai makhluk yang memiliki kesempatan abadi untuk memahami makna kehidupan.

  • Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    Agar Iman Tidak Dicabut, Bacalah Amalan Ini

    “Inilah sebuah amalan bacaan yang langsung diturunkan Allah Ta’ala karena 24.000 Nabi, termasuk Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril tidak mengetahuinya.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Sahabatku, kekasih Allah. Pasulukan Loka Gandasasmita mengucapkan Dirgahayu ke 81 Tentara Nasional Indonesia, semoga tentara semakin menjadi pelindung rakyat, bangsa dan negara. Hubungan antara TNI dan rakyat diibaratkan seperti ikan dan air; tentara tidak akan bisa hidup dan bertahan tanpa dukungan rakyat.

    Seiring dengan perkembangan keadaan global baik dari sisi keamanan, perpolitikan, ekonomi, dan lebih dikhawatirkan adalah tergerusnya iman dari hati umat beragama karena telah susutnya ulama menjelang akhir zaman. Maka risalah ini sangat erat hubungan dengan keadaan itu.

    Dimulai dari Nabi Khidir AS bertanya kepada 24.000 Nabi tentang amalan bacaan yang melindungi pembacanya dari dicabut imannya. Namun demikian semuanya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

    Hingga bertanyalah kepada Nabi Muhammad SAW namun Nabi pun tidak bisa menjawabnya dan beliau akan bertanya kepada Jibril A.S. Ternyata Malaikat Jibril pun tidak bisa menjawabnya hingga dia bertanya langsung pada Allah SWT. Dan inilah jawabanNya, sebagaimana yang diterangkan oleh Mursyid kami Abah Guru Sekumpul dalam sebuah Kanal Youtube:

    Ternyata inilah jawaban Allah Ta’ala terhadap pertanyaan tersebut:

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255).
    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286.
    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18.
    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27.
    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4.
    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5.
    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6.
    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7.

    Berikut rincian ayat-ayat tersebut agar bisa diamalkan sebagai amalan bacaan setiap hari.

    1. Membaca Ayat Kursiy (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 255):

    اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ە ۚ لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ ۗ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا بِاِذْنِهٖ ۗ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖٓ اِلَّا بِمَا شَاۤءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ ۝٢٥٥

    Allâhu lâ ilâha illâ huw, al-ḫayyul-qayyûm, lâ ta’khudzuhû sinatuw wa lâ na’ûm, lahû mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardl, man dzalladzî yasyfa‘u ‘indahû illâ bi’idznih, ya‘lamu mâ baina aidîhim wa mâ khalfahum, wa lâ yuḫîthûna bisyai’im min ‘ilmihî illâ bimâ syâ’, wasi‘a kursiyyuhus-samâwâti wal-ardl, wa lâ ya’ûduhû ḫifdhuhumâ, wa huwal-‘aliyyul-‘adhîm

    “Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”

    2. Membaca Surah al-Baqarah [2] ayat 285-286:

    اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ ۝٢٨٥ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ ۝٢٨٦

    Ãmanar-rasûlu bimâ unzila ilaihi mir rabbihî wal-mu’minûn, kullun âmana billâhi wa malâ’ikatihî wa kutubihî wa rusulih, lâ nufarriqu baina aḫadim mir rusulih, wa qâlû sami‘nâ wa atha‘nâ ghufrânaka rabbanâ wa ilaikal-mashîr. Lâ yukallifullâhu nafsan illâ wus‘ahâ, lahâ mâ kasabat wa ‘alaihâ maktasabat, rabbanâ lâ tu’âkhidznâ in nasînâ au akhtha’nâ, rabbanâ wa lâ taḫmil ‘alainâ ishrang kamâ ḫamaltahû ‘alalladzîna ming qablinâ, rabbanâ wa lâ tuḫammilnâ mâ lâ thâqata lanâ bih, wa‘fu ‘annâ, waghfir lanâ, war-ḫamnâ, anta maulânâ fanshurnâ ‘alal-qaumil-kâfirîn

    “Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali. Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.”

    3. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 18:

    شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِ ۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۝١٨

    Syahidallâhu annahû lâ ilâha illâ huwa wal-malâ’ikatu wa ulul-‘ilmi qâ’imam bil-qisth, lâ ilâha illâ huwal-‘azîzul-ḫakîm

    “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, (Allah) yang menegakkan keadilan. (Demikian pula) para malaikat dan orang berilmu. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

    4. Membaca Surah Ãli ‘Imrân [3] ayat 26-27:

    قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُ ۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ۝٢٦ تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَارِ وَتُوْلِجُ النَّهَارَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاۤءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٢٧

    Qulillâhumma mâlikal-mulki tu’til-mulka man tasyâ’u wa tanzi‘ul-mulka mim man tasyâ’u wa tu‘izzu man tasyâ’u wa tudzillu man tasyâ’, biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai’ing qadîr. Tûlijul-laila fin-nahâri wa tûlijun-nahâra fil-laili wa tukhrijul-ḫayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-ḫayyi wa tarzuqu man tasyâ’u bighairi ḫisâb.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan.”

    5. Membaca Surah al-Ikhlâsh [112] ayat 1-4:

    قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ ۚ ۝١ اَللّٰهُ الصَّمَدُ ۚ ۝٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ۙ ۝٣ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ ۝٤

    Qul huwallâhu aḫad. Allâhush-shamad. Lam yalid wa lam yûlad. Wa lam yakul lahû kufuwan aḫad

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

    6. Membaca Surah al-Falaq [113] ayat 1-5:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۙ ۝١ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ۙ ۝٢ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ ۙ ۝٣ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ ۙ ۝٤ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَࣖ ۝٥

    Qul a‘ûdzu birabbil-falaq. Min syarri mâ khalaq. Wa min syarri ghâsiqin idzâ waqab. Wa min syarrin-naffâtsâti fil-‘uqad. Wa min syarri ḫâsidin idzâ ḫasad.

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh). Dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

    7. Membaca Surah an-Nâs [114] ayat 1-6:

    قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ۙ ۝١ مَلِكِ النَّاسِ ۙ ۝٢ اِلٰهِ النَّاسِ ۙ ۝٣ مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ە ۙ الْخَنَّاسِ ۖ ۝٤ الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ ۙ ۝٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦

    Qul a‘ûdzu birabbin-nâs. Malikin-nâs. Ilâhin-nâs. Min syarril-waswâsil-khannâs. Alladzî yuwaswisu fî shudûrin-nâs. Minal-jinnati wan-nâs

    “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

    8. Membaca Surah al-Fâtihah [1] ayat 1-7:

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۝١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ۝٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ ۝٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ ۝٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ ۗ ۝٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ ۝٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ە ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ ۝٧

    Bismillâhir-raḫmânir-raḫîm. Al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn. Ar-raḫmânir-raḫîm. Mâliki yaumid-dîn. Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘în. Ihdinash-shirâthal-mustaqîm. Shirâthalladzîna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghdlûbi ‘alaihim wa ladl-dlâllîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.”

    Maka barangsiapa yang membaca seluruh rangkaian amalan bacaan tadi setiap selesai shalat, Allah Ta’ala menjamin sang pembacanya dari tercabut iman pada qalbunya hingga akhir hayatnya.

    Akhir Risalah:

    رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

    Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wa hab lanâ mil ladungka raḫmah, innaka antal-wahhâb

    “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 8)

  • Mukjizat Nabi Sulaiman Ditiru AI

    Mukjizat Nabi Sulaiman Ditiru AI

    “Para ilmuwan kini sedang mengembangkan cara untuk memahami bahasa hewan. Caranya dengan menggunakan artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.”

    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞

    Bismillâhirrahmânirrahîm
    Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

    “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.

    Saudaraku yang dirahmati Allah SWT. Memahami bahasa hewan sebenarnya bukan hal baru didengar dalam dunia Islam. Sebab ada sosok yang punya kemampuan melakukannya, yaitu Nabi Sulaiman AS. Kemampuan berbicara dengan hewan itu merupakan salah satu mukjizat yang dimilikinya.

    Berkat kemampuan yang dianugerahkan Allah SWT tersebut, membuat para hewan patuh pada perintah Nabi Sulaiman AS. Bukan cuma hewan, bahkan angin, jin dan setan pun dikuasainya dan tunduk pada perintahnya.

    Berikut petunjuk al-Qur’an tentang beberapa mukjizat yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Sulaiman AS:

    Memahami Bahasa Burung

    وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ ۝١٦

    Wa waritsa sulaimânu dâwûda wa qâla yâ ayyuhan-nâsu ‘ullimnâ manthiqath-thairi wa ûtînâ ming kulli syaî’, inna hâdzâ lahuwal-fadllul-mubîn

    “Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia (Sulaiman) berkata, “Wahai manusia, kami telah diajari (untuk memahami) bahasa burung dan kami dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.” (Q.S. An-Naml [27]: 16)

    Memahami Bahasa Semut

    حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ۝١٨ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٩

    Hattâ idzâ atau ‘alâ wâdin-namli qâlat namlatuy yâ ayyuhan-namludkhulû masâkinakum, lâ yahthimannakum sulaimânu wa junûduhû wa hum lâ yasy‘urûn. Fa tabassama dlâḫikam ming qaulihâ wa qâla rabbi auzi‘nî an asykura ni‘matakallatî an‘amta ‘alayya wa ‘alâ wâlidayya wa an a‘mala shâliḫan tardlâhu wa adkhilnî biraḫmatika fî ‘ibâdikash-shâliḫîn

    “Hingga ketika sampai di lembah semut, ratu semut berkata, “Wahai para semut, masuklah ke dalam sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (18) Dia (Sulaiman) tersenyum seraya tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku (ilham dan kemampuan) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk tetap mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. (Aku memohon pula) masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (19)” (Q.S. An-Naml [27]: 18–19)

    Mengendalikan Angin

    وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ ۝٨١

    Wa lisulaimânar-rîḫa ‘âshifatan tajrî bi’amrihî ilal-ardlillatî bâraknâ fîhâ, wa kunnâ bikulli syai’in ‘âlimîn

    “(Kami menundukkan) pula untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami beri berkah padanya. Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 81)

    وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ۝١٢

    Wa lisulaimânar-rîḫa ghuduwwuhâ syahruw wa rawâḫuhâ syahr, wa asalnâ lahû ‘ainal-qithr, wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr

    “Bagi Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang (jarak tempuh) perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) serta Kami alirkan cairan tembaga baginya. Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)

    فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ ۝٣٦

    Fa sakhkharnâ lahur-rîḫa tajrî bi’amrihî rukhâ’an ḫaitsu ashâb

    “Maka, Kami menundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang ia kehendaki.” (Q.S. Shad [38]: 36)

    Raja Kerajaan Besar

    وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوْزَعُوْنَ ۝١٧

    Wa ḫusyira lisulaimâna junûduhû minal-jinni wal-insi wath-thairi fa hum yûza‘ûn

    “Untuk Sulaiman dikumpulkanlah bala tentara dari (kalangan) jin, manusia, dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib.” (Q.S. An-Naml [27]: 17)

    قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ۝٣٥

    Qâla rabbighfir lî wa hab lî mulkal lâ yambaghî li’aḫadim mim ba‘dî, innaka antal-wahhâb

    “Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut (dimiliki) oleh seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.’” (Q.S. Shad [38]: 35)

    Menguasai Jin dan Setan

    … وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ۝١٢

    … Wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi’idzni rabbih, wa may yazigh min-hum ‘an amrinâ nudziq-hu min ‘adzâbis-sa‘îr

    “… Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).” (Q.S. Saba’ [34]: 12)

    وَالشَّيٰطِيْنَ كُلَّ بَنَّاۤءٍ وَّغَوَّاصٍۙ ۝٣٧ وَّاٰخَرِيْنَ مُقَرَّنِيْنَ فِى الْاَصْفَادِ ۝٣٨ هٰذَا عَطَاۤؤُنَا فَامْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝٣٩

    Wasy-syayâthîna kulla bannâ’iw wa ghawwâsh. Wa âkharîna muqarranîna fil-ashfâd. Hâdzâ ‘athâ’unâ famnun au amsik bighairi ḫisâb.

    “(Kami menundukkan pula kepadanya) setan-setan, semuanya ahli bangunan, dan penyelam. (37) (Begitu juga setan-setan) lain yang terikat dalam belenggu. (38) Inilah anugerah Kami. Maka, berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan. (39)” (Q.S. Shad [38]: 37-38)

    Di era modern, manusia berusaha mengulik teknologi yang mereka punya untuk bisa memiliki kemampuan seperti dimiliki Nabi Sulaiman AS. Meski masih dalam tahap pengembangan, tapi ambisi itu tidak diiringi dengan kesadaran etis akan manfaat dan tujuan memperolehnya. Tentu saja, kemampuan itu tidak bisa dibandingkan dengan mukjizat Nabi Sulaiman AS.

    Menurut para ilmuwan AI, memahani bahasa hewan ini dimungkinkan berkat perkembangan di bidang bioakustik digital. Bioakustik adalah ilmu lintas-disiplin yang menggabungkan biologi dan akustik yang biasanya merujuk pada penelitian mengenai produksi suara, dispersi melalui media elastis, dan penerimaan pada hewan, termasuk manusia.

    “Teknologi baru membantu peneliti memecahkan kode komunikasi hewan. Dan bahkan mulai berbicara dengan mereka. Sensor canggih dan AI mungkin membuat kita berada di ambang komunikasi antarspesies,” kata Kelso Harper, produser video dan jurnalis sains yang punya gelar di bidang penulisan kimia dan sains dari Universitas Johns Hopkins dan Massachusetts Institute of Technology, dikutip dari Scientific American, Sabtu (1/4/2023).

    Karen Bakker, seorang profesor di University of British Columbia dan Harvard Radcliffe Institute for Advanced Study menulis buku berjudul ‘The Sounds of Life: How Digital Technology is Bringing us Closer to the Worlds of Animals and Plants.’ Dalam bukunya itu, ia mengeksplorasi bagaimana para peneliti memanfaatkan teknologi baru untuk memahami komunikasi hewan bahkan di bidang bioakustik digital yang sedang berkembang.

    Jadi, apakah para ilmuwan mencoba membuat hewan berbicara seperti manusia seperti di film kartun? Bakker menyebutkan, apa yang digambarkan para peneliti kurang lebih hampir mirip seperti itu.

    Upaya ini rupanya sudah dilakukan para peneliti. Mereka pertama kali mulai mencoba berkomunikasi dengan hewan pada sekitar tahun 1970-1980an. Artinya, mereka berusaha untuk mengajari hewan bahasa manusia. Namun, banyak ilmuwan saat ini telah beralih dari pendekatan yang berpusat pada manusia, dan sebaliknya mereka ingin memahami komunikasi hewan dengan caranya sendiri.

    “Jadi, alih-alih mencoba mengajari burung berbicara bahasa manusia, ilmuwan menguraikan apa yang sudah mereka katakan dalam bahasa burung,” kata Harper.

    Bidang bioakustik digital baru ini menggunakan perekam lapangan portabel seperti mikrofon mini yang dapat diletakkan hampir di mana saja, di pohon, di puncak gunung, bahkan di punggung ikan paus dan burung.

    Mereka merekam suara setiap hari dan membuat banyak sekali data, di situlah kecerdasan buatan masuk. Peneliti dapat menerapkan algoritma pemrosesan bahasa alami seperti yang digunakan oleh Google menerjemahkan untuk mendeteksi pola dalam rekaman ini dan mulai memecahkan kode apa yang mungkin dikatakan hewan kepada satu sama lain.

    Salah satu contoh yang diberikan Karen dalam bukunya adalah tentang kelelawar buah Mesir. Seorang peneliti bernama Yossi Yovel merekam audio dan video dari dua puluhan kelelawar selama dua setengah bulan. Timnya mengadaptasi program pengenalan suara untuk menganalisis 15 ribu suara, lalu algoritms menghubungkan suara tertentu dengan interaksi sosial tertentu dalam video, seperti berebut makanan atau berebut posisi tidur.

    Jadi, penelitian ini, dikombinasikan dengan beberapa penelitian terkait lainnya, mengungkapkan bahwa kelelawar mampu melakukan komunikasi yang rumit.

    “Dengan kecerdasan buatan, kita bisa mulai melacak pola komunikasi hewan yang sebelumnya tidak pernah bisa kita lakukan,” kata Harper.

    Orang-orang masih memperdebatkan pertanyaan apakah kita dapat menyebutnya bahasa hewan atau tidak. Namun semakin jelas bahwa hewan memiliki cara komunikasi yang jauh lebih kompleks daripada yang kita pikirkan sebelumnya.

    Dalam bukunya, Karen memberikan analogi penemuan bioakustik digital dengan penemuan mikroskop, karena keduanya memiliki kemiripan.

    “Mikroskop membuka seluruh dunia baru bagi kita dan meletakkan dasar bagi terobosan ilmiah yang tak terhitung jumlahnya secara visual. Dan itulah yang dilakukan bioakustik digital dengan audio untuk mempelajari komunikasi hewan,” tulis Karen.

    Sangat menarik untuk melihat ke mana arah penelitian di bidang bioakustik digital dan bagaimana hal itu dapat mengubah cara kita berpikir tentang komunikasi dengan lawan bicara non-manusia. Nabi Sulaiman AS dianugerahkan oleh Allah SWT mukjizat untuk menguasai hewan, angin, jin, dll dengan membawa misi nubuwwah dan amanah-Nya. Lalu untuk manusia saat ini, apakah sama dengan misi Nabi Sulaiman AS?

    Sebagai penutup artikel, Rasulullah SAW pernah bersabda. Dari Abu Hurairah RA berkata; Rasulullah SAW pernah berdoa:

    اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ، مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَآءٍ لَا يُسْمَعُ .

    Allâhumma innî a’ûdzu bika minal arba’i, min ‘ilmil lâ yanfa’, wa min qalbil lâ yakhsya’, wa min nafsil lâ tasyba’, wa min du’âil la yusma’.

    “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari empat perkara, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas dan dari doa yang tidak didengar”. (H.R. Abu Dawud dalam Shahih-nya No. 1548)

Share with