“Inilah kesempurnaan penciptaan Tuhan pada tubuh manusia pasca kematian”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞
Bismillâhirrahmânirrahîm
Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
Sahabatku yang tercinta, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan lagi ke dalam tanah setelah kematiannya. Hal ini tercantum dalam Surah Thaha [20] ayat 55, Allah SWT berfirman:
مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرٰى ٥٥
Min-hâ khalaqnâkum wa fîhâ nu‘îdukum wa min-hâ nukhrijukum târatan ukhrâ
“Darinya (tanah) itulah Kami menciptakanmu, kepadanyalah Kami akan mengembalikanmu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkanmu pada waktu yang lain.”
Secara medis, tubuh manusia berangsur-angsur akan menyatu dengan unsur tanah. Berikut ingin aku sampaikan sebuah ilmu pengetahuan medik tentang perjalanan tubuh manusia menjelang kematian dan pasca kematiannya. Simak video dalam sebuah Kanal Youtube di bawah ini:
Sesungguhnya hiruk pikuk dunia, apapun itu, baik ditinjau dari ekonomi, politik, hubungan sosial, etika yang terkoyak, agama yang terinjak bersumber dari lalainya manusia pada kematian. Banyak orang yang menentukan sikapnya, menetapkan jalan kebijakan seolah mereka akan hidup selama-lamanya. Seolah hidup pasca kematian adalah akhir dari segalanya tanpa proses lanjutan.
Ingatlah, dunia ini telah ada miliaran tahun lalu, tidakkah kita memikirkan kemanakah perginya jasad ataupun ruh makhluk yang ada sebelum kita saat ini? Hidup itu abadi, yang hancur dan rusak adalah yang dihidupkan.
Syaikh Jalaluddin Rumi bersya’ir tentang kematian dan keabadian:
Saat Aku Mati
Saat peti jenazahku
sedang dibawa keluar
jangan pernah berpikir
aku merindukan dunia ini.
Jangan meneteskan air mata
jangan meratap ata merasa iba
aku tidak sedang jatuh
ke dalam jurang monster.
Saat kau melihat
jenazahku sedang diusung
jangan menangisi kepergianku
aku tidak pergi
aku sedang tiba di cinta abadi.
Saat kau meninggalkanku
di liang lahat
jangan ucapkan selamat tinggal
ingatlah bahwa kuburan
hanyalah sebuah tirai
bagi surga di baliknya.
Kau hanya melihatku
turun ke dalam kubur
kini saksikanlah aku bangkit
bagaimana mungkin ada akhir
saat matahari terbenam atau
bulan pun turun.
Itu tampak seperti akhir
terlihat seperti senja
namun sesungguhnya itu adalah fajar
saat kubur mengurungmu
saat itulah jiwamu dibebaskan.
Pernahkah kau melihat
benih yang jatuh ke bumi
tidak bangkit membawa kehidupan baru
mengapa kau meragukan kebangkitan
benih yang bernama manusia.
Pernahkah kau melihat
timba yang diturunkan ke sumur
kembali dalam keadaan kosong
mengapa meratapi jiwa
saat ia bisa kembali
seperti Yusuf dari dalam sumur.
Saat untuk terakhir kalinya
kau menutup mulutmu
kata-kata dan jiwamu
akan menjadi milik dunia
tanpa tempat dan tanpa waktu.
Setelah dikubur di dalam tanah, jasad manusia mengalami proses penguraian alami secara biologis hingga akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Berikut adalah tahapan proses perginya atau hancurnya jasad di dalam kubur:
Hari ke-1 hingga ke-3: Aliran darah berhenti, suhu tubuh menurun, dan organ mulai mengalami autolisis (pembusukan oleh enzim internal). Tubuh mulai membiru dan membengkak akibat gas yang dihasilkan bakteri.
Hari ke-7: Kulit mulai mengelupas, proses pembusukan semakin terlihat jelas, dan muncul bau tidak sedap akibat penguraian jaringan.
Hari ke-40: Sebagian besar jaringan lunak (seperti otot dan daging) hancur dan mencair, sementara organ-organ dalam sudah tidak berfungsi.
Hari ke-100: Sebagian besar daging dan jaringan tubuh habis, yang tersisa di dalam kubur umumnya tinggal kerangka atau tulang-belulang.
Hari ke-1000 (sekitar 3 tahun atau lebih): Jasad secara keseluruhan telah hancur dan menyatu kembali dengan unsur tanah tempat ia dikuburkan.
Sementara itu, dalam pandangan Islam, ketika seseorang meninggal dunia, jasadnya dikubur di dalam tanah untuk proses pembusukan dan penguraian alami, sementara ruh berpindah ke alam barzakh (alam penantian antara dunia dan akhirat).
Proses di dalam tanah menyebabkan seluruh bagian tubuh akan hancur melebur dengan tanah, kecuali bagian tulang ekor (‘ajbudz dzanab). Tulang ekor ini diyakini utuh dan akan menjadi benih atau asal mula manusia dibangkitkan kembali oleh Allah SWT pada hari kiamat.
Mengenai hal itu, Rasulullah SAW menjelaskan secara spesifik dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ يَأْكُلُهُ التُّرَابُ إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ خُلِقَ مِنْهُ وَفِيْهِ يُرَكَّبُ
“Setiap anak Adam akan dimakan oleh tanah (jasadnya hancur) kecuali tulang ekor. Dari tulang ekor itulah ia diciptakan dan darinya ia akan disusun kembali (pada hari kiamat).” (H.R. Muslim No. 2955)
Namun demikian, meski hukum alam memproses jasad manusia hingga hancur dan menyatu dengan tanah, Allah SWT mengecualikan beberapa golongan manusia yang jasadnya tetap utuh di dalam kubur. Di antaranya adalah para nabi dan rasul, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الأَنْبِيَآءِ
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bagi bumi untuk memakan (menghancurkan) jasad para nabi.” (H.R. Abu Dawud No. 1047, Shahih)
Selain para nabi, dalam beberapa riwayat hadits dan atsar juga disebutkan bahwa orang yang mati syahid (gugur di jalan Allah) dan para penghafal Al-Qur’an yang mengamalkan isinya sering kali dianugerahi jasad yang utuh sebagai bentuk kemuliaan dari Allah SWT.
Semoga proses jasad setelah kematian yang aku persembahkan dalam Kanal Youtube di atas menjadikan kita memahami betapa sempurnaNya Allah dalam penciptaan diri kita maupun pengembaliannya kepada Sang Pemilik. Semoga bermanfaat.
Wallâhu A’lamu bish-Shawâb

Leave a Reply