“Hati manusia memunculkan suasana dan perasaan, kadang sedih dan kadang gembira, kadang menggiring manusia untuk taat dan kadang menggiring manusia untuk maksiat.”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاٰلِهِ مَعَ التَّسْلِيْمِ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ فِى تَحْصِيْلِ الْعِنَايَةِ الْعَآمَّةِ وَالْهِدَايَةِ التَّآمَّةِ، آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ ۞
Bismillâhirrahmânirrahîm
Al-hamdu lillâh wash-shalâtu wassalâmu ‘alâ Muhammadin wa âlihî ma’at taslîmi wabihî nasta’înu fî tahshîlil ‘inâyatil ‘âmmati wal-hidâyatit tâmmah, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadaNya kami memohon pertolongan dalam mencapai inayahNya yang umum dan petunjukNya yang sempurna, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn“.
Saudaraku yang senantiasa dijaga oleh Allah SWT. Hati sanubari manusia sangatlah misterius. Terkadang ia memunculkan suasana duka, baik dengan atau tanpa sebab. Saat lain, terkadang ia memunculkan suasana bahagia, juga baik dengan sebab tertentu ataupun tanpanya.
Hati seperti sebuah pusat kendali yang mengontrol dan mengendalikan semua perbuatan manusia, baik ataupun buruk. Darinya muncul rasa cinta, rasa benci, rasa bahagia, rasa menderita, dst. Rasulullah SAW memberikan sinyal tentang hati bahwa:
إِنَّ قُلُوْبَ بَنِيْ آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمٰنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ . ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: « اَللّٰهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ، صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ »
Dari Abdullah bin Amr radhiyallâhu ‘anhumâ, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya hati seluruh anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman (Maha Pengasih) seperti satu hati. Allah membolak-balikkan hati itu ke mana saja yang Dia kehendaki.” Lalu Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, arahkanlah hati kami untuk tetap taat kepada-Mu.” (H.R. Muslim no. 2654 dalam Kitab al-Qadar)
Dalam redaksi lain, Rasulullah SAW juga mengajarkan sebuah doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
Yâ muqallibal qulûb, tsabbit qalbî ‘alâ dînik
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (H.R. Tirmidzi, Hasan)
Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW telah memberikan sinyal-sinyal bahwa:
- Allah Maha Berkuasa atas dan menggenggam hati manusia yang beraneka macam seperti satu macam.
- Allah-lah yang memberi hidayah, membimbing ke jalan lurus, atau jika Dia kehendaki, membiarkan seseorang tersesat karena kehendaknya sendiri.
- Manusia tak mampu mengendalikan hatinya sendiri yang sering dan mudah berubah-ubah serta berbolak-balik.
- Pentingnya memohon keteguhan hati agar selalu berada dalam kebaikan dan ketaatan.
- Jangan sombong atau terlalu yakin bahwa kita mampu menjamin diri kita sendiri akan selalu berada di jalan yang benar tanpa meminta pertolongan Allah.
Sehubungan dengan hati manusia yang berada dalam genggaman Allah SWT, maka tak satupun manusia mampu mengendalikan rasa sedih, bahagia, senang, benci, taat, maksiat, dst. Hak mutlak Allah-lah semua rasa yang muncul dari hati manusia.
Allah SWT juga memberikan petunjuk:
وَاَنَّهٗ هُوَ اَضْحَكَ وَاَبْكٰى ٤٣
Wa annahû huwa adl-ḫaka wa abkâ
“Bahwa sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (Q.S. An-Najm [53]: 43)
Dalam sebuah ayat, Allah SWT juga memberikan sinyal agar kita mengetahui dengan ilmu tentang rahasia-rahasia hati yang antara diri kita sendiri dengan hati kita ada batas. Perhatikan ayat berikut:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٤
Yâ ayyuhalladzîna âmanustajîbû lillâhi wa lir-rasûli idzâ da‘âkum limâ yuḫyîkum, wa‘lamû annallâha yaḫûlu bainal-mar’i wa qalbihî wa annahû ilaihi tuḫsyarûn
“Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan (iman). Dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 24)
Ayat tersebut diturunkan sebagai panduan mendasar tentang hubungan spiritual antara manusia, petunjuk agama, dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Ayat ini dimulai dengan seruan khusus: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepadamu….”. Apa yang dimaksud dengan “sesuatu yang memberi kehidupan“?
Qatadah dan As-Suddi mengartikan bahwa kehidupan yang dimaksud adalah iman dan Islam. Tanpa iman, manusia secara biologis hidup, namun ruh dan hatinya mati. Seruan khusus dalam ayat tersebut adalah panggilan menuju kehidupan sejati (limâ yuhyîkum). Sementara itu, Mujahid berpendapat bahwa seruan ini adalah ajakan menuju kebenaran dan Ilmu.
Selain itu, dalam konteks asbâbun nuzul (sebab turunnya ayat), ayat ini turun pasca Perang Badar, Ibnu Ishaq menjelaskan bahwa seruan ini mencakup perintah berjihad. Jihad memberikan “kehidupan” berupa kemuliaan, kemerdekaan, dan keselamatan bagi umat Muslim di dunia dan akhirat.
Dalam perspektif kaidah hukum (fiqh), ayat tersebut menuntut pemenuhan kepatuhan yang mutlak dan segera (istijâbah). Bahkan dalam beberapa riwayat, jika seorang sahabat sedang shalat kemudian dipanggil oleh Rasulullah SAW, ia wajib memutus atau menunda shalatnya untuk menjawab panggilan Nabi terlebih dahulu karena urgensi ayat ini.
Lalu apa makna spesifik bahwa “dan ketahuilah bahwa Allah membatasi antara seseorang dan hatinya“?
Sahabat Ibnu Abbas RA dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Allah berkuasa membatasi orang mukmin agar hatinya kokoh dan tidak tergelincir pada kekafiran. Sebaliknya, Allah juga berkuasa membatasi orang kafir sehingga ia tidak bisa meraih keimanan jika ia terus-menerus menolak kebenaran. Sementara dalam Tafsir As-Sa’di, bahwa batas itu adalah sebuah hukuman atas penundaan. Jika manusia sengaja menolak perintah Allah saat pertama kali mendengarnya, Allah bisa menghukumnya dengan mengunci mati hatinya. Ini adalah “batas” yang mengerikan, di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk bertobat karena hatinya telah dipalingkan.
Dalam Tafsir Qatadah, “batas” dalam ayat tersebut adalah bermakna kedekatan yang mutlak. Beliau menyebutkan bahwa makna pembatasan ini serupa dengan apa yang disebutkan dalam Surat Qaf ayat 16, “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya“. Allah berada di antara manusia dan hatinya sendiri, artinya Allah jauh lebih tahu isi hati, niat, dan bisikan jiwa seseorang daripada orang itu sendiri.
Ada juga yang menafsirkan bahwa “batas” yang dimaksud pada ayat tersebut adalah kematian dan hilangnya kesempatan. Allah bisa mengambil nyawa manusia kapan saja, membatasi dirinya dengan hatinya (kemampuan beramal), sehingga kesempatan untuk memenuhi seruan-Nya hilang selamanya, na’ûdzu billâhi min dzâlik.
Dalam kehidupan sehari-hari, hati manusia sering kali menjadi pusat dari segala aktivitas spiritual, emosional, dan keputusan moral. Di dalam Islam, hati bukan sekadar organ fisik, tetapi simbol dari kedalaman spiritual dan pusat kehidupan batin. Allah memiliki kuasa penuh atas hati manusia sehingga disebut juga dengan Muqallibal Qulûb (Maha Membolak-balikkan hati).
Banyak orang yang awalnya beriman kepada Allah, namun pada akhirnya murtad atau keluar dari Islam. Sebaliknya, ada pula yang sebelumnya hidup dalam kekafiran, tetapi kemudian menerima hidayah dan masuk Islam. Oleh karena itu, kita wajib selalu memohon perlindungan kepada Allah agar iman kita tetap kokoh dan kita meninggal dalam keadaan beriman.
Ketika dikatakan bahwa Allah membolak-balikkan hati, artinya Allah memiliki kekuasaan untuk mengubah perasaan, niat, atau keinginan yang ada dalam hati seseorang. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa Allah dapat menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-An’am [6] ayat 125:
فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ١٢٥
Fa may yuridillâhu ay yahdiyahû yasyraḫ shadrahû lil-islâm, wa may yurid ay yudlillahû yaj‘al shadrahû dlayyiqan ḫarajang ka’annamâ yashsha‘‘adu fis-samâ’, kadzâlika yaj‘alullâhur-rijsa ‘alalladzîna lâ yu’minûn.
“Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dalam karyanya Mukhtashar Minhajul Qashidin Juz 1, halaman 188 menjelaskan tentang keadaan hati manusia dalam kaitannya dengan Yang Maha Membolak-balikkan hati itu ada tiga kategori:
Pertama, hati yang dipenuhi ketaqwaan dan hati yang disucikan oleh riyâdhah atau latihan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, hatinya bersih dari kotoran-kotoran akhlak yang tercela. Orang yang memiliki hati yang demikian angannya selalu tertuju pada kebaikan, dan ia dianugerahi hidayah atau petunjuk kepada jalan kebajikan.
Kedua, hati yang tidak mendapatkan pertolongan atau petunjuk, hatinya dipenuhi hawa nafsu, dan terlumuri oleh kotoran-kotoran akhlak yang tercela. Hatinya gelap tanpa cahaya. Sehingga ia tidak bisa dipengaruhi oleh nasihat atau peringatan.
Ketiga, hati yang dikuasai hawa nafsu, dan terkadang hawa nafsunya sangat kuat, karena dibantu oleh bujuk rayu setan. Sehingga ia mudah untuk melakukan kemaksiatan, walaupun demikian ia terkadang masih berbuat kebaikan.
Pada prinsipnya, seseorang yang melakukan kebaikan atau keburukan dapat mengalami perubahan. Mereka yang awalnya baik bisa menjadi buruk, begitu pula sebaliknya. Perubahan ini disebabkan oleh bisikan-bisikan yang muncul dari hati mereka.
Setiap orang diciptakan dengan kecenderungan tertentu. Bagi mereka yang ditakdirkan untuk melakukan kebaikan, maka perbuatan baik akan terasa mudah untuk dilakukan. Sebaliknya, bagi mereka yang ditakdirkan untuk melakukan keburukan, perbuatan buruk akan lebih mudah dijalankan. Kecenderungan ini mencerminkan bagaimana seseorang dipengaruhi oleh hatinya dalam mengambil tindakan, baik atau buruk.
Pemahaman bahwa Allah Maha Membolak-balikkan hati manusia membawa pesan pentingnya ketergantungan kepada Allah, dan tanggung jawab manusia untuk menjaga hatinya tetap dalam keadaan yang baik. Meskipun Allah berkuasa penuh atas hati manusia, Dia juga memberikan manusia kebebasan untuk memilih dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Oleh karena itu, manusia harus terus berusaha, berdoa, dan selalu berharap kepada Allah agar diberikan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Semoga Allah SWT penuhi hati kita dengan kebaikan dan ketaqwaan, âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.
اَللّٰهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ وَعَلَى مَحَبَّتِكَ وَعَلَى مَحَبَّةِ رَسُوْلِكَ
Allâhumma yâ muqallibal qulûbi tsabbit qalbî ‘alâ dînik, wa ‘alâ mahabbatik, wa ‘alâ mahabbati rasûlik
“Wahai Allah, wahai Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan di atas kecintaan kepada-Mu, dan di atas kecintaan kepada Utusan-Mu.”
Ãmîn yâ Rabbal ‘âlamîn.

Leave a Reply